VISI | Tertawalah Sebelum Dilarang
Padahal literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan membaca realitas. Jika pemimpin tidak membaca tanda-tanda zaman, jika pengambil kebijakan tidak membaca kebutuhan lapangan, jika pengelola pendidikan tidak membaca denyut sekolah, maka kegagalan bukan kemungkinan—melainkan keniscayaan.
Di sektor hukum, ironi serupa terus berulang. Hukum sering tampak perkasa saat berhadapan dengan rakyat kecil, tetapi mendadak rabun ketika berhadapan dengan kekuasaan dan uang. Mereka yang lemah cepat ditetapkan sebagai tersangka, sementara yang kuat bisa menawar pasal, menunda proses, bahkan menghilangkan perkara.
Keadilan pun terasa eksklusif—hanya milik mereka yang mampu membayar atau punya akses. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika kepercayaan publik terkikis. Yang tersisa hanyalah sinisme dan candaan pahit di ruang-ruang privat. Masyarakat menertawakan ironi hukum, bukan karena lucu, tetapi karena terlalu menyakitkan untuk ditangisi terus-menerus.
Yang lebih menyedihkan, negeri ini sebenarnya tidak kekurangan sumber daya manusia unggul. Banyak anak bangsa yang cerdas, berintegritas, bahkan diakui di tingkat nasional dan internasional. Namun sayang, tidak sedikit dari mereka justru diabaikan. Prestasi dibalas dengan sertifikat dan tepuk tangan. Ucapan terima kasih menjadi hadiah utama. Selesai.
Sebaliknya, mereka yang dekat dengan kekuasaan bisa mendapatkan penghargaan berlimpah hanya dengan bisikan. Sertifikat dicetak cepat, hadiah digelontorkan deras, panggung disediakan luas. Bukan karena prestasi, tetapi karena relasi. Inilah ironi meritokrasi yang mati sebelum sempat tumbuh.
Dalam konteks pendidikan, guru dan dosen yang telah mengabdikan diri puluhan tahun, mencetak generasi, menulis buku, mengharumkan nama daerah bahkan negara, sering kali hanya diminta “tetap semangat”. Sementara kebijakan yang menyangkut kesejahteraan mereka berjalan tertatih, tidak jelas, bahkan cenderung mengabaikan.
Barangkali salah satu penyakit paling kronis para pemimpin kita adalah haus sanjungan. Kritik dianggap ancaman. Masukan dipersepsikan sebagai serangan. Padahal sanjungan yang berlebihan justru membahayakan. Ia meninabobokan. Membuat lupa diri. Menghapus refleksi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!