VISI | Sepucuk Daun yang Layu Sebelum Berkembang
Ketika siswa malas masuk akibat kurangnya keteladanan, adanya sikap sentimen, serta kultur pilih kasih, mereka justru semakin diasingkan. Bukannya didekati secara persuasif, mereka yang mencoba kembali menginjakkan kaki di sekolah malah dihadiahi intimidasi verbal yang meruntuhkan mental. Kalimat-kalimat ketus bernada penolakan mengalir lancar dari mulut yang pasif menjalankan fungsi pendidik.
"Di sela tirai jendela kelas yang berdebu, anak-anak ini sebenarnya adalah jiwa-jiwa yang sedang mencari arah pulang. Mereka adalah sepucuk daun muda yang layu sebelum berkembang, ditiup angin ketidakpedulian dari singgasana para penguasa regulasi. Ketika mereka mengetuk pintu untuk kembali, yang terdengar bukanlah sapaan hangat seorang ibu, melainkan dentang lonceng pengusiran yang dingin dan membekukan harapan."
Belum lagi aturan kaku yang dipaksakan. Siswa yang terlambat hitungan menit langsung dikunci di luar pagar. Mereka dibiarkan terlantar di jalanan atau terpaksa menerobos masuk secara sembunyi-sembunyi demi mengikuti pelajaran berikutnya. Aturan represif ini, meminjam pemikiran sosiolog pendidikan Emile Durkheim, bukanlah bentuk disiplin moral, melainkan kekerasan institusional yang gagal membentuk kesadaran batin siswa. Alih-alih mendidik, aturan tebang rata seperti ini justru melatih anak untuk lihai bersiasat dan mempertegas bakat mereka sebagai pembolos sejati.
Ego Kepemimpinan di Tengah Krisis Murid
Ironisnya, gejala arogansi ini justru sering menjangkiti sekolah-sekolah swasta yang secara kuantitas sebenarnya sedang berjuang mencari murid. Di saat banyak lembaga swasta lain berdarah-darah mengetuk pintu rumah warga demi bertahan hidup, di tempat lain justru ada ego kepemimpinan (leadership) yang dengan angkuh berbisik, "Kami tidak butuh murid yang bermasalah!"
Pernyataan implisit seperti itu adalah puncak dari ilusi kekuasaan. Bapak Pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, melalui konsep Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, menegaskan bahwa pendidik adalah pamong. Tugas seorang pemimpin di lembaga pendidikan adalah menyembuhkan yang sakit dan meluruskan yang bengkok, bukan membuangnya ke tempat sampah peradaban.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!