VISI | Sepucuk Daun yang Layu Sebelum Berkembang
- Refleksi Kasih Sayang yang Hilang di Sekolah Swasta.
Penulis R. Ch. Madris
- Budayawan
KETIKA ruang kelas berganti menjadi ruang sidang yang dingin dan fungsi pendidik bergeser menjadi jaksa penentu vonis. Sebuah refleksi kritis dari seorang penulis sastra dan pemerhati pendidikan tentang arogansi kepemimpinan, standar ganda aturan, serta hilangnya rasa kasih sayang di sebagian institusi pendidikan swasta yang tega mematahkan masa depan anak didik di gerbang kelulusan.
Dunia pendidikan kita hari ini riuh dengan jargon "Merdeka Belajar" dan kampanye Sekolah Ramah Anak (SRA). Ruang-ruang seminar dipenuhi retorika tentang memanusiakan manusia. Namun, realitas di akar rumput kerap kali menghantam wajah idealisme tersebut. Di beberapa sudut lembaga pendidikan swasta, terutama yang berkelindan dengan kultur pesantren, kita terkadang masih disuguhi potret buram kepemimpinan yang bergaya kolonial. Ada gejala ganjil ketika singgasana kepala sekolah dan dewan guru berubah menjadi menara gading yang kedap terhadap jerit sunyi anak didik.
Sangat disayangkan jika sebuah institusi yang lahir dari rahim keagamaan justru terjebak dalam watak birokrasi tangan besi. Di tempat-tempat seperti ini, tindakan mengeluarkan siswa (drop out) seolah menjadi menu reguler yang begitu mudah disajikan di atas meja kekuasaan. Mirisnya, "dosa besar" siswa yang berujung pada pengusiran sering kali bukan karena kasus kriminal berat. Pelanggarannya terkadang "hanya" seputar masalah absensi, malas masuk kelas, atau sesekali kepergok merokok. Seketika itu juga, cap "sangat nakal" distempelkan, dan hak belajar anak diputus di tengah jalan.
Malapraktik Bimbingan Konseling dan Luka di Balik Pagar
Mengapa seorang siswa memilih menjauh dari ruang kelas? Pertanyaan inilah yang kerap luput dari papan tulis para pengajar. Guru yang bijak akan mengetuk pintu hati anak, menginvestigasi penyebabnya, lalu merangkul. Namun, jamak kita temui fungsi Bimbingan Konseling (BK) yang mengalami malapraktik akut akibat kompetensi guru yang tidak linier dengan psikologi perkembangan remaja. BK yang sejatinya menjadi ruang perlindungan kini kerap beralih rupa menjadi bilik interogasi dan "jaksa pemutus vonis".
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!