VISI | Sekolah Gila!
Oleh Drajat
SEKOLAH, tempat di mana anak-anak diajari untuk bercita-cita setinggi langit. Tempat di mana mereka diajari rumus, dikisahkan pahlawan, dan dijanjikan masa depan cerah jika taat belajar. Tapi, tunggu dulu. Benarkah semua itu masih berlaku?
Sudah terlalu lama penulis bergelut dalam dunia pendidikan. Tiga dekade bukan waktu sebentar. Penulis menyaksikan lahirnya generasi demi generasi yang datang dengan semangat, namun pulang dengan kebingungan. Penulis melihat anak-anak yang rajin, cerdas, dan tekun, justru tumbang di tengah jalan, bukan karena malas, tapi karena sistem yang tidak adil. Penulis menyebutnya: Sekolah Gila.
Gila bukan karena tak beraturan, tapi karena sistemnya terlihat waras tapi mencederai. Gila karena pendidikan yang seharusnya menumbuhkan justru melukai. Gila karena terlalu sering kita mengabaikan kenyataan, lalu tetap memaksa berjalan di atas rel yang sudah usang.
Beberapa tahun yang lalu, penulis bertemu dengan seorang anak luar biasa. Pintarnya minta ampun! Ia diterima di perguruan tinggi negeri ternama dengan beasiswa penuh. Semua orang bangga.
Namun kebanggaan itu tak bertahan lama. Beberapa bulan kemudian, anak itu pulang ke kampung halamannya. Bukan karena gagal studi. Bukan karena tak kuat akademik. Tapi karena tidak punya uang untuk biaya hidup.
Beasiswa yang dibanggakan hanya menanggung biaya kuliah. Uang makan, kos, dan transportasi? Tidak ada yang menjamin. Ia datang ke rumah dengan mata sayu, berharap bisa kembali dengan bekal seadanya dari orang tua. Tapi apa daya? Ayahnya seorang buruh tani, demikian juga ibunya.
Tak sampai sebulan, anak itu hilang arah. Lalu, hilang kendali. Sampai akhirnya—dan ini menyayat hati—ia terganggu ingatannya. Itu bukan kisah fiksi. Itu nyata. Itu bagian dari “sekolah gila” yang penulis maksud. Sekolah yang menyiapkan anak-anak untuk meraih langit, tetapi lupa bahwa kaki mereka tak punya sepatu.
Penulis pernah bertanya kepada beberapa siswa kelas akhir, “Setelah lulus, kalian ingin ke mana?” Mereka diam. Ada yang menjawab asal, ada yang balik bertanya, “Yang penting bisa lulus, Pak.”
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!