VISI | Sekolah Gila!
Pertanyaan itu bukan karena mereka bodoh. Tapi karena terlalu lama sekolah mengajarkan tanpa makna. Terlalu lama sekolah menjadikan pelajaran hanya soal menghafal, bukan memahami. Nilai hanya menjadi angka, bukan refleksi.
Mereka bisa menjelaskan proses fotosintesis, tapi tidak tahu bagaimana menanam sayur di pekarangan. Mereka hafal Pancasila, tapi tak berani jujur ketika ujian. Mereka tahu siapa B.J. Habibie, tapi tidak kenal cara berpikir kreatif. Di sinilah kegilaan sekolah itu terjadi: pelajaran begitu banyak, tapi nilai kehidupan begitu minim.
Untungnya, penulis juga menjumpai anak-anak yang tumbuh dewasa sebelum waktunya. Mereka tidak terjebak pada glorifikasi sekolah. Mereka berprinsip: sekolah di mana saja sama. Bahkan ada yang memilih ujian kesetaraan daripada masuk sekolah formal, dengan alasan, “Saya lebih suka belajar di kehidupan nyata.”
Penulis sempat skeptis. Tapi ketika melihat perjalanan mereka, penulis justru kagum.
Mereka membuka usaha kecil-kecilan. Mereka belajar dari YouTube, ikut pelatihan daring, magang di bengkel, berdagang online. Mereka belajar langsung dari dunia nyata, dari pasar, dari komunitas, dari kesalahan dan pengalaman.
Penulis akhirnya menyadari: sekolah yang sejati adalah sekolah kehidupan. Sekolah yang mengajarkan arti tanggung jawab, keringat, ketekunan, etika, dan pilihan. Di luar gedung sekolah itulah “kelas” terbesar kehidupan berlangsung.
Pendidikan itu bukan sekadar mengejar akreditasi atau nilai rapor. Pendidikan sejatinya membentuk manusia yang dewasa dan paham arti hidup. Jika hari ini banyak anak muda bingung harus melangkah ke mana, itu bukan salah mereka sepenuhnya. Itu adalah cermin kegagalan sekolah sebagai institusi yang seharusnya membimbing. Maka, penulis menyerukan: sekolah harus kembali waras.
Berikut ini beberapa upaya konkret untuk menjadikan sekolah sebagai tempat yang manusiawi dan membumi: Pertama, kurikulum yang membumi. Kita perlu kurikulum yang relevan dengan kehidupan nyata. Bukan semata-mata kurikulum “nasional”, tapi kurikulum yang peka terhadap kebutuhan lokal, potensi daerah, dan perkembangan zaman.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!