VISI | Sekolah Gila!
Kedua, guru sebagai pendamping, bukan dosen keliling. Guru bukan hanya penyampai materi, tapi pembimbing kehidupan. Guru seharusnya membantu peserta didik mengenali potensi, menghadapi tantangan, dan memahami makna hidup. Guru harus punya empati, bukan hanya kompetensi.
Ketiga, keseimbangan antara nilai dan makna. Nilai akademik penting, tapi tidak boleh menjadi satu-satunya tolak ukur. Kita perlu menghidupkan nilai-nilai kehidupan: kejujuran, kepedulian, kerja sama, kreativitas, dan ketangguhan mental.
Keempat, kebijakan pendidikan yang berpihak pada anak miskin. Tidak semua anak punya bekal ekonomi. Maka sistem pendidikan kita harus menjamin keberlanjutan pendidikan mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu, dengan beasiswa yang menyeluruh, bukan sekadar potongan SPP.
Kelima, ruang refleksi dan ekspresi. Sekolah harus menyediakan ruang untuk anak-anak mengeksplorasi dirinya. Beri mereka waktu untuk menulis, berdiskusi, membuat proyek, menyampaikan pendapat. Biarkan mereka tumbuh sebagai individu, bukan sekadar produk sistem.
Ketika seorang anak bercita-cita menjadi koruptor karena melihat pejabat tersenyum meski tertangkap, itu bukan sekadar kegagalan moral. Itu adalah indikasi bahwa pendidikan kita belum menyentuh hati dan kesadaran anak-anak.
Ketika lulusan SMA bingung menentukan arah hidup, ketika mahasiswa miskin gagal karena tak punya biaya hidup, ketika sekolah sibuk mengurus administrasi tapi lupa pada anak-anaknya—maka saatnya kita berkata, “Cukup sudah sekolah gila ini.”
Mari kita ubah. Mari kita jadikan sekolah sebagai tempat yang sehat, waras, dan manusiawi. Tempat yang membentuk pribadi tangguh, bermoral, dan memahami arti hidup. Sekolah bukan hanya soal gedung, seragam, atau ijazah. Sekolah adalah harapan, jembatan, aserta cahaya. Dan cahaya itu hanya bisa bersinar, jika sekolah kembali pada hakikatnya: menjadi tempat menumbuhkan kehidupan.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!