Revaldo Jadi Tersangka Kasus Narkoba untuk Keempat Kalinya 26 Aug 2026 Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Revaldo Jadi Tersangka Kasus Narkoba untuk Keempat Kalinya 26 Aug 2026 Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026

VISI | Sekolah Gila!

ED
Jumat, 27 Juni 2025 | 11:55 WIB
Bagikan
VISI | Sekolah Gila!

Oleh Drajat

SEKOLAH, tempat di mana anak-anak diajari untuk bercita-cita setinggi langit. Tempat di mana mereka diajari rumus, dikisahkan pahlawan, dan dijanjikan masa depan cerah jika taat belajar. Tapi, tunggu dulu. Benarkah semua itu masih berlaku?

Sudah terlalu lama penulis bergelut dalam dunia pendidikan. Tiga dekade bukan waktu sebentar. Penulis menyaksikan lahirnya generasi demi generasi yang datang dengan semangat, namun pulang dengan kebingungan. Penulis melihat anak-anak yang rajin, cerdas, dan tekun, justru tumbang di tengah jalan, bukan karena malas, tapi karena sistem yang tidak adil. Penulis menyebutnya: Sekolah Gila.

Gila bukan karena tak beraturan, tapi karena sistemnya terlihat waras tapi mencederai. Gila karena pendidikan yang seharusnya menumbuhkan justru melukai. Gila karena terlalu sering kita mengabaikan kenyataan, lalu tetap memaksa berjalan di atas rel yang sudah usang.

Beberapa tahun yang lalu, penulis bertemu dengan seorang anak luar biasa. Pintarnya minta ampun! Ia diterima di perguruan tinggi negeri ternama dengan beasiswa penuh. Semua orang bangga.

Namun kebanggaan itu tak bertahan lama. Beberapa bulan kemudian, anak itu pulang ke kampung halamannya. Bukan karena gagal studi. Bukan karena tak kuat akademik. Tapi karena tidak punya uang untuk biaya hidup.

Beasiswa yang dibanggakan hanya menanggung biaya kuliah. Uang makan, kos, dan transportasi? Tidak ada yang menjamin. Ia datang ke rumah dengan mata sayu, berharap bisa kembali dengan bekal seadanya dari orang tua. Tapi apa daya? Ayahnya seorang buruh tani, demikian juga ibunya.

Tak sampai sebulan, anak itu hilang arah. Lalu, hilang kendali. Sampai akhirnya—dan ini menyayat hati—ia terganggu ingatannya. Itu bukan kisah fiksi. Itu nyata. Itu bagian dari “sekolah gila” yang penulis maksud. Sekolah yang menyiapkan anak-anak untuk meraih langit, tetapi lupa bahwa kaki mereka tak punya sepatu.

Penulis pernah bertanya kepada beberapa siswa kelas akhir, “Setelah lulus, kalian ingin ke mana?” Mereka diam. Ada yang menjawab asal, ada yang balik bertanya, “Yang penting bisa lulus, Pak.”

Pertanyaan itu bukan karena mereka bodoh. Tapi karena terlalu lama sekolah mengajarkan tanpa makna. Terlalu lama sekolah menjadikan pelajaran hanya soal menghafal, bukan memahami. Nilai hanya menjadi angka, bukan refleksi.

Mereka bisa menjelaskan proses fotosintesis, tapi tidak tahu bagaimana menanam sayur di pekarangan. Mereka hafal Pancasila, tapi tak berani jujur ketika ujian. Mereka tahu siapa B.J. Habibie, tapi tidak kenal cara berpikir kreatif. Di sinilah kegilaan sekolah itu terjadi: pelajaran begitu banyak, tapi nilai kehidupan begitu minim.

Untungnya, penulis juga menjumpai anak-anak yang tumbuh dewasa sebelum waktunya. Mereka tidak terjebak pada glorifikasi sekolah. Mereka berprinsip: sekolah di mana saja sama. Bahkan ada yang memilih ujian kesetaraan daripada masuk sekolah formal, dengan alasan, “Saya lebih suka belajar di kehidupan nyata.”

Penulis sempat skeptis. Tapi ketika melihat perjalanan mereka, penulis justru kagum.

Mereka membuka usaha kecil-kecilan. Mereka belajar dari YouTube, ikut pelatihan daring, magang di bengkel, berdagang online. Mereka belajar langsung dari dunia nyata, dari pasar, dari komunitas, dari kesalahan dan pengalaman.

Penulis akhirnya menyadari: sekolah yang sejati adalah sekolah kehidupan. Sekolah yang mengajarkan arti tanggung jawab, keringat, ketekunan, etika, dan pilihan. Di luar gedung sekolah itulah “kelas” terbesar kehidupan berlangsung.

Pendidikan itu bukan sekadar mengejar akreditasi atau nilai rapor. Pendidikan sejatinya membentuk manusia yang dewasa dan paham arti hidup. Jika hari ini banyak anak muda bingung harus melangkah ke mana, itu bukan salah mereka sepenuhnya. Itu adalah cermin kegagalan sekolah sebagai institusi yang seharusnya membimbing. Maka, penulis menyerukan: sekolah harus kembali waras.

Berikut ini beberapa upaya konkret untuk menjadikan sekolah sebagai tempat yang manusiawi dan membumi: Pertama, kurikulum yang membumi. Kita perlu kurikulum yang relevan dengan kehidupan nyata. Bukan semata-mata kurikulum “nasional”, tapi kurikulum yang peka terhadap kebutuhan lokal, potensi daerah, dan perkembangan zaman.

Kedua, guru sebagai pendamping, bukan dosen keliling. Guru bukan hanya penyampai materi, tapi pembimbing kehidupan. Guru seharusnya membantu peserta didik mengenali potensi, menghadapi tantangan, dan memahami makna hidup. Guru harus punya empati, bukan hanya kompetensi.

Ketiga, keseimbangan antara nilai dan makna. Nilai akademik penting, tapi tidak boleh menjadi satu-satunya tolak ukur. Kita perlu menghidupkan nilai-nilai kehidupan: kejujuran, kepedulian, kerja sama, kreativitas, dan ketangguhan mental.

Keempat, kebijakan pendidikan yang berpihak pada anak miskin. Tidak semua anak punya bekal ekonomi. Maka sistem pendidikan kita harus menjamin keberlanjutan pendidikan mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu, dengan beasiswa yang menyeluruh, bukan sekadar potongan SPP.

Kelima, ruang refleksi dan ekspresi. Sekolah harus menyediakan ruang untuk anak-anak mengeksplorasi dirinya. Beri mereka waktu untuk menulis, berdiskusi, membuat proyek, menyampaikan pendapat. Biarkan mereka tumbuh sebagai individu, bukan sekadar produk sistem.

Ketika seorang anak bercita-cita menjadi koruptor karena melihat pejabat tersenyum meski tertangkap, itu bukan sekadar kegagalan moral. Itu adalah indikasi bahwa pendidikan kita belum menyentuh hati dan kesadaran anak-anak.

Ketika lulusan SMA bingung menentukan arah hidup, ketika mahasiswa miskin gagal karena tak punya biaya hidup, ketika sekolah sibuk mengurus administrasi tapi lupa pada anak-anaknya—maka saatnya kita berkata, “Cukup sudah sekolah gila ini.”

Mari kita ubah. Mari kita jadikan sekolah sebagai tempat yang sehat, waras, dan manusiawi. Tempat yang membentuk pribadi tangguh, bermoral, dan memahami arti hidup. Sekolah bukan hanya soal gedung, seragam, atau ijazah. Sekolah adalah harapan, jembatan, aserta cahaya. Dan cahaya itu hanya bisa bersinar, jika sekolah kembali pada hakikatnya: menjadi tempat menumbuhkan kehidupan.***

  • Penulis, Doktor Ilmu Pendidikan, Praktisi Pendidikan dan Hipnoterapis

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.