VISI | Pers Sekarat, Demokrasi Terancam

ED
Minggu, 8 Februari 2026 | 20:24 WIB
Bagikan
VISI | Pers Sekarat, Demokrasi Terancam

Oleh Aep S. Abdullah

HARI Pers Nasional 2026 yang akan diperingati pada 9 Februari seharusnya menjadi momen refleksi, bukan sekadar seremoni. Di tengah pidato tentang kebebasan pers dan peran media sebagai pilar keempat demokrasi, industri pers global justru berada dalam kondisi rapuh. Laporan terbaru World Press Trends Outlook 2025 yang dirilis WAN-IFRA membuka kenyataan pahit: media berita dunia memang belum runtuh, tetapi jelas sedang tertahan di titik kritis, nyaris tanpa daya dorong ke depan.

Secara nominal, pendapatan media berita global pada 2025 tercatat sebesar US$125,7 miliar. Angka ini terlihat besar, bahkan disebut “stabil”. Namun stabilitas tersebut menyesatkan. Nilai industri justru turun tipis 0,01 persen dibanding tahun sebelumnya. Dalam konteks ekonomi global yang terus bergerak dan sektor teknologi yang tumbuh agresif, stagnasi ini menandakan kebuntuan struktural. Media tidak lagi tumbuh; ia hanya berusaha bertahan.

Masalah utamanya terletak pada ketergantungan yang belum terputus dari sumber pendapatan lama. Media cetak masih menyumbang sekitar 65 persen dari total pendapatan global industri pers. Digital hanya berkontribusi 21 persen, sementara sumber lain—seperti acara, jasa konten, hibah, dan e-commerce—sekitar 14 persen. Artinya, transformasi digital yang selama lebih dari satu dekade dikampanyekan ternyata belum cukup kuat menopang keberlanjutan bisnis pers.

Survei WAN-IFRA terhadap 172 pemimpin industri media di 66 negara memperlihatkan gambaran yang lebih tajam. Gabungan iklan cetak dan sirkulasi cetak kini menyumbang 43,6 persen pendapatan penerbit. Lima tahun lalu, porsi ini masih mencapai 56,2 persen. Penurunannya tidak dramatis dalam satu tahun, tetapi konsisten dan tak terelakkan. Ini bukan fluktuasi musiman, melainkan gejala penyakit kronis.

Yang lebih mengkhawatirkan, iklan cetak masih mengungguli iklan digital. Pada 2025, iklan cetak menyumbang 21,2 persen pendapatan, sementara iklan digital hanya 17 persen. Fakta ini memperlihatkan betapa rapuhnya fondasi ekonomi jurnalisme digital. Harapan bahwa internet akan menjadi mesin uang baru bagi pers ternyata berhadapan dengan realitas dominasi platform teknologi.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.