VISI | Pers Sekarat, Demokrasi Terancam
WAN-IFRA bahkan secara terbuka menyebut pertumbuhan digital “mandek”. Selama lima tahun terakhir, kontribusi digital berhenti di kisaran 30 persen dari total pendapatan. Sempat anjlok tajam pada 2023 akibat krisis iklan digital global, pemulihan yang terjadi setelahnya pun berjalan lambat. Media harus mengerahkan berbagai strategi—penguatan data pihak pertama, penargetan audiens, diversifikasi platform—hanya untuk merebut kembali sebagian kecil kue iklan yang sebelumnya direbut raksasa teknologi.
Di sisi sirkulasi, cerita optimisme juga terbatas. Jumlah pelanggan digital berbayar memang tumbuh menjadi 72,6 juta pada 2025, naik 8,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun angka ini masih jauh di bawah oplah cetak global yang mencapai 490,5 juta eksemplar, meski turun 2 persen. Digital tumbuh, tetapi terlalu lambat untuk menutup jurang pendapatan yang ditinggalkan media cetak.
Karena itulah banyak perusahaan media terpaksa mencari sumber pendapatan di luar jurnalisme inti. Acara (events), layanan B2B, kemitraan platform, hibah, keanggotaan, hingga e-commerce kini menjadi penopang penting. Pada 2025, sumber-sumber ini menyumbang sekitar 25,4 persen pendapatan penerbit, hampir dua kali lipat dibanding empat tahun sebelumnya. Jurnalisme, ironisnya, justru disubsidi oleh aktivitas non-jurnalistik.
Namun seluruh upaya itu terasa kecil jika dibandingkan dengan kekuatan ekonomi platform digital global. Total nilai industri media berita dunia bahkan tidak sebanding dengan Alphabet, induk Google dan YouTube, yang mencatat pendapatan US$350 miliar pada 2024. Alphabet menghasilkan hampir 178 persen lebih besar daripada seluruh industri surat kabar global, dan dalam satu kuartal saja mampu mendekati pendapatan tahunan industri pers dunia.
Ketimpangan ini bukan sekadar persoalan persaingan bisnis, melainkan relasi kuasa yang timpang. Platform digital menguasai distribusi, data pengguna, dan pasar iklan. Media memproduksi konten dengan biaya tinggi dan risiko politik serta hukum, tetapi nilai ekonominya dipanen oleh platform. Ini adalah ekstraksi nilai dalam skala global, dengan jurnalisme sebagai korban utamanya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!