VISI | Panggung
Di sekolah, penulis sering mengingatkan peserta didik bahwa panggung bukanlah tujuan. Panggung hanyalah alat. Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah mendapat kesempatan itu. Karena tidak semua orang yang tampil akan dikenang. Yang dikenang adalah mereka yang memberi makna. Begitu pula dalam kehidupan berbangsa. Tidak semua pemimpin yang memiliki panggung besar akan dicatat sejarah. Yang dicatat adalah mereka yang menggunakan panggungnya untuk menghadirkan perubahan. Untuk memperjuangkan keadilan. Untuk menjaga amanah. Untuk melayani masyarakat.
Sayangnya, kita hidup di zaman ketika panggung sering lebih penting daripada substansi. Penampilan lebih penting daripada isi. Popularitas lebih penting daripada kualitas. Sorotan kamera lebih penting daripada kerja nyata. Akibatnya, banyak energi bangsa habis untuk pertunjukan. Sementara persoalan mendasar tetap menunggu solusi. Pendidikan masih menghadapi berbagai tantangan. Literasi masih tertinggal. Numerasi masih memerlukan perhatian serius. Karakter generasi muda masih membutuhkan penguatan. Namun yang sering memenuhi ruang publik justru pertunjukan demi pertunjukan.
Padahal bangsa ini membutuhkan cahaya. Bukan sekadar sorotan. Karena sorotan hanya membuat sesuatu terlihat. Sedangkan cahaya membuat sesuatu menjadi jelas. Dan cahaya hanya bisa lahir dari orang-orang yang memahami amanah panggung. Mereka yang sadar bahwa setiap kata akan didengar. Setiap tindakan akan ditiru. Setiap keputusan akan berdampak pada kehidupan banyak orang.
Sebagai guru, penulis tetap optimis. Sebab setiap tahun penulis melihat lahirnya anak-anak yang luar biasa. Anak-anak yang jujur. Anak-anak yang cerdas. Anak-anak yang memiliki kepedulian. Mereka adalah calon pemimpin masa depan. Mereka adalah generasi yang suatu hari akan berdiri di panggung yang lebih besar. Karena itu, tugas pendidikan bukan hanya mengajari mereka cara berbicara di atas panggung. Tetapi mengajari mereka cara menjaga hati ketika berada di atas panggung. Agar ketika kesempatan itu datang, mereka tidak silau oleh lampu sorot. Tidak mabuk oleh tepuk tangan. Dan tidak lupa bahwa panggung adalah amanah.
Berita Terkait
Komentar (1)
Tulis Komentar
Suhanda
2 months agoMasyaa Alloh....terimakasih ilmunya....semoga kita dapat menjadikan diri bermanfaat bagi orang lain apapun peran kita di atas panggung