VISI | Panggung
Namun semakin lama penulis memperhatikan kehidupan, semakin terasa bahwa panggung tidak hanya ada di sekolah. Di luar sana terdapat panggung yang jauh lebih besar. Panggung politik. Panggung kekuasaan. Panggung birokrasi. Panggung media sosial. Panggung kehidupan publik. Dan di panggung-panggung itulah sering kali kita menemukan ironi.
Panggung pada dasarnya bersifat netral. Ia tidak baik dan tidak buruk. Yang menentukan adalah siapa yang berdiri di atasnya. Di tangan orang yang tepat, panggung menjadi sumber inspirasi. Ia menghadirkan harapan. Ia menyebarkan energi positif. Ia menumbuhkan optimisme. Ia mengajak orang bergerak menuju kebaikan. Namun di tangan yang keliru, panggung bisa berubah menjadi sumber kegaduhan. Alih-alih menghadirkan kesejukan, ia menghadirkan keresahan. Alih-alih memberi solusi, ia menambah persoalan. Alih-alih menyatukan, ia justru memecah belah.
Belakangan ini kita sering menyaksikan bagaimana panggung digunakan bukan untuk melayani masyarakat, melainkan untuk mempertahankan citra. Bukan untuk menyampaikan kebenaran, tetapi untuk membangun persepsi. Bukan untuk mengakui kesalahan, melainkan untuk mencari pembenaran. Yang lebih menyedihkan, tidak sedikit orang yang setelah mendapatkan panggung justru berubah. Saat belum memiliki kekuasaan, mereka tampak sederhana. Saat belum memiliki jabatan, mereka tampak dekat dengan rakyat. Saat belum memiliki panggung, mereka tampak penuh idealisme. Namun ketika sorotan lampu mulai mengarah kepada mereka, perlahan berubah. Mereka mulai menikmati tepuk tangan. Mereka mulai percaya bahwa dirinya selalu benar. Mereka mulai sulit menerima kritik. Dan pada titik itulah panggung berubah menjadi jebakan.
Sebagai praktisi hipnoterapi, penulis memahami bahwa manusia memiliki kebutuhan yang sangat besar untuk diakui. Dalam psikologi, kebutuhan akan penghargaan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang menjadi masalah adalah ketika kebutuhan tersebut berubah menjadi ketergantungan. Ketika seseorang tidak lagi bekerja untuk memberi manfaat, tetapi bekerja demi tepuk tangan. Ketika seseorang tidak lagi memimpin untuk melayani, tetapi memimpin untuk dipuji. Ketika seseorang lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga amanah. Maka sesungguhnya ia sedang menjadi tawanan panggung yang dibangunnya sendiri.
Berita Terkait
Komentar (1)
Tulis Komentar
Suhanda
2 months agoMasyaa Alloh....terimakasih ilmunya....semoga kita dapat menjadikan diri bermanfaat bagi orang lain apapun peran kita di atas panggung