Harga Emas Antam Hari Ini Rp2,768 Juta per Gram 25 Aug 2026 Daftar Harga BBM Pertamina Hari Ini 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Peringati Hari Pramuka ke-65, KDS Perkuat Semangat Pengabdian Generasi Muda 25 Aug 2026 122 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan ke Warga Terdampak Kekeringan di Sukabumi 25 Aug 2026 12.517 Jiwa di Kota Sukabumi Terdampak Kesulitan Air Bersih 25 Aug 2026 5G-A Dukung Robot Humanoid Bertanding di Beijing 25 Aug 2026 BPBD Kota Sukabumi Catat Empat Kejadian Kebakaran Lahan Selama Agustus 25 Aug 2026 ECOVACS Bawa Robot Rumah Pintar ke Singapore Pop Toy Show 2026 25 Aug 2026 Konser Masih Jadi Primadona, Warga Hong Kong Makin Gemar Beli Tiket Mendadak 25 Aug 2026 Harga Emas Antam Hari Ini Rp2,768 Juta per Gram 25 Aug 2026 Daftar Harga BBM Pertamina Hari Ini 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Peringati Hari Pramuka ke-65, KDS Perkuat Semangat Pengabdian Generasi Muda 25 Aug 2026 122 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan ke Warga Terdampak Kekeringan di Sukabumi 25 Aug 2026 12.517 Jiwa di Kota Sukabumi Terdampak Kesulitan Air Bersih 25 Aug 2026 5G-A Dukung Robot Humanoid Bertanding di Beijing 25 Aug 2026 BPBD Kota Sukabumi Catat Empat Kejadian Kebakaran Lahan Selama Agustus 25 Aug 2026 ECOVACS Bawa Robot Rumah Pintar ke Singapore Pop Toy Show 2026 25 Aug 2026 Konser Masih Jadi Primadona, Warga Hong Kong Makin Gemar Beli Tiket Mendadak 25 Aug 2026

VISI | Panggung

Desi Rossilawati
Kamis, 25 Juni 2026 | 06:24 WIB
Bagikan
VISI | Panggung

Oleh: Drajat

MENJADI guru adalah pilihan. Dan hingga hari ini, setelah lebih dari tiga puluh lima tahun berdiri di depan kelas, penulis masih meyakini bahwa pilihan itu adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidup. Bukan karena profesi ini menjanjikan kekayaan berlimpah. Bukan pula karena jalan hidup seorang guru selalu mudah. Justru sebaliknya. Menjadi guru sering kali mengajarkan kesabaran yang panjang, ketulusan yang tidak selalu terlihat, serta pengabdian yang kadang tidak mendapatkan tepuk tangan.

Ada satu kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Yaitu ketika melihat manusia bertumbuh. Ketika melihat seorang anak yang awalnya pemalu, perlahan mulai berani berbicara. Ketika melihat peserta didik yang dulu menunduk saat berjalan, kemudian mampu berdiri tegak menyampaikan gagasannya. Ketika melihat anak-anak yang dahulu hanya menjadi penonton, akhirnya berani tampil di atas panggung kehidupannya sendiri. Dan mungkin, di situlah letak keindahan profesi seorang guru.

Setiap tahun ajaran baru selalu menghadirkan cerita yang hampir sama. Anak-anak datang dengan wajah yang asing. Sebagian malu. Sebagian diam. Sebagian bahkan seperti menyimpan dunia mereka sendiri. Tatapan mata mereka masih mencari-cari. Mereka belum menemukan tempat yang nyaman. Belum menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri. Namun waktu memiliki caranya sendiri untuk bekerja. Hari demi hari berlalu. Minggu demi minggu berjalan. Dan perlahan mereka berubah. Mereka mulai tertawa. Mereka mulai berani bertanya. Mereka mulai berani berbeda. Mereka mulai berani menunjukkan warna dirinya. Seperti pelangi yang muncul setelah hujan, mereka menghadirkan warna yang membuat dunia terasa lebih indah.

Sebagai guru, salah satu momen yang paling membahagiakan adalah ketika peserta didik diberi panggung. Bukan hanya panggung seni. Bukan hanya panggung perpisahan. Tetapi setiap kesempatan ketika mereka diberi ruang untuk menunjukkan siapa dirinya. Di atas panggung itulah keajaiban sering terjadi. Anak yang biasanya pendiam bisa menjadi sangat percaya diri. Anak yang sering dianggap biasa justru tampil luar biasa. Anak yang selama ini tidak terlihat mendadak memancarkan cahaya yang tidak pernah disangka. Panggung menjadi ruang kejujuran. Tidak ada topeng. Tidak ada kepalsuan. Tidak ada pencitraan. Yang ada hanyalah diri mereka yang sesungguhnya.Dan bagi seorang guru, momen itu sering kali lebih membahagiakan daripada berbagai penghargaan. Karena di situlah perjalanan panjang pendidikan menemukan maknanya.

Namun semakin lama penulis memperhatikan kehidupan, semakin terasa bahwa panggung tidak hanya ada di sekolah. Di luar sana terdapat panggung yang jauh lebih besar. Panggung politik. Panggung kekuasaan. Panggung birokrasi. Panggung media sosial. Panggung kehidupan publik. Dan di panggung-panggung itulah sering kali kita menemukan ironi.

Panggung pada dasarnya bersifat netral. Ia tidak baik dan tidak buruk. Yang menentukan adalah siapa yang berdiri di atasnya. Di tangan orang yang tepat, panggung menjadi sumber inspirasi. Ia menghadirkan harapan. Ia menyebarkan energi positif. Ia menumbuhkan optimisme. Ia mengajak orang bergerak menuju kebaikan. Namun di tangan yang keliru, panggung bisa berubah menjadi sumber kegaduhan. Alih-alih menghadirkan kesejukan, ia menghadirkan keresahan. Alih-alih memberi solusi, ia menambah persoalan. Alih-alih menyatukan, ia justru memecah belah.

Belakangan ini kita sering menyaksikan bagaimana panggung digunakan bukan untuk melayani masyarakat, melainkan untuk mempertahankan citra. Bukan untuk menyampaikan kebenaran, tetapi untuk membangun persepsi. Bukan untuk mengakui kesalahan, melainkan untuk mencari pembenaran. Yang lebih menyedihkan, tidak sedikit orang yang setelah mendapatkan panggung justru berubah. Saat belum memiliki kekuasaan, mereka tampak sederhana. Saat belum memiliki jabatan, mereka tampak dekat dengan rakyat. Saat belum memiliki panggung, mereka tampak penuh idealisme. Namun ketika sorotan lampu mulai mengarah kepada mereka, perlahan berubah. Mereka mulai menikmati tepuk tangan. Mereka mulai percaya bahwa dirinya selalu benar. Mereka mulai sulit menerima kritik. Dan pada titik itulah panggung berubah menjadi jebakan.

Sebagai praktisi hipnoterapi, penulis memahami bahwa manusia memiliki kebutuhan yang sangat besar untuk diakui. Dalam psikologi, kebutuhan akan penghargaan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang menjadi masalah adalah ketika kebutuhan tersebut berubah menjadi ketergantungan. Ketika seseorang tidak lagi bekerja untuk memberi manfaat, tetapi bekerja demi tepuk tangan. Ketika seseorang tidak lagi memimpin untuk melayani, tetapi memimpin untuk dipuji. Ketika seseorang lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga amanah. Maka sesungguhnya ia sedang menjadi tawanan panggung yang dibangunnya sendiri.

Di sekolah, penulis sering mengingatkan peserta didik bahwa panggung bukanlah tujuan. Panggung hanyalah alat. Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah mendapat kesempatan itu. Karena tidak semua orang yang tampil akan dikenang. Yang dikenang adalah mereka yang memberi makna. Begitu pula dalam kehidupan berbangsa. Tidak semua pemimpin yang memiliki panggung besar akan dicatat sejarah. Yang dicatat adalah mereka yang menggunakan panggungnya untuk menghadirkan perubahan. Untuk memperjuangkan keadilan. Untuk menjaga amanah. Untuk melayani masyarakat.

Sayangnya, kita hidup di zaman ketika panggung sering lebih penting daripada substansi. Penampilan lebih penting daripada isi. Popularitas lebih penting daripada kualitas. Sorotan kamera lebih penting daripada kerja nyata. Akibatnya, banyak energi bangsa habis untuk pertunjukan. Sementara persoalan mendasar tetap menunggu solusi. Pendidikan masih menghadapi berbagai tantangan. Literasi masih tertinggal. Numerasi masih memerlukan perhatian serius. Karakter generasi muda masih membutuhkan penguatan. Namun yang sering memenuhi ruang publik justru pertunjukan demi pertunjukan.

Padahal bangsa ini membutuhkan cahaya. Bukan sekadar sorotan. Karena sorotan hanya membuat sesuatu terlihat. Sedangkan cahaya membuat sesuatu menjadi jelas. Dan cahaya hanya bisa lahir dari orang-orang yang memahami amanah panggung. Mereka yang sadar bahwa setiap kata akan didengar. Setiap tindakan akan ditiru. Setiap keputusan akan berdampak pada kehidupan banyak orang.

Sebagai guru, penulis tetap optimis. Sebab setiap tahun penulis melihat lahirnya anak-anak yang luar biasa. Anak-anak yang jujur. Anak-anak yang cerdas. Anak-anak yang memiliki kepedulian. Mereka adalah calon pemimpin masa depan. Mereka adalah generasi yang suatu hari akan berdiri di panggung yang lebih besar. Karena itu, tugas pendidikan bukan hanya mengajari mereka cara berbicara di atas panggung. Tetapi mengajari mereka cara menjaga hati ketika berada di atas panggung. Agar ketika kesempatan itu datang, mereka tidak silau oleh lampu sorot. Tidak mabuk oleh tepuk tangan. Dan tidak lupa bahwa panggung adalah amanah.

Pada akhirnya, hidup ini memang panggung. Setiap orang akan mendapatkan gilirannya. Ada yang sebentar. Ada yang lama. Ada yang kecil. Ada yang besar. Namun satu hal yang pasti, panggung tidak akan berlangsung selamanya. Lampu akan padam. Tirai akan tertutup. Tepuk tangan akan berhenti. Dan yang tersisa hanyalah pertanyaan sederhana: Ketika panggung itu diberikan kepada kita, apakah kita menghadirkan cahaya atau justru menambah kegelapan? Karena sejarah tidak akan mengingat seberapa megah panggung yang kita miliki. Sejarah hanya akan mengingat apa yang kita lakukan di atasnya.

Komentar (1)

Tulis Komentar

S

Suhanda

2 months ago

Masyaa Alloh....terimakasih ilmunya....semoga kita dapat menjadikan diri bermanfaat bagi orang lain apapun peran kita di atas panggung

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.