VISI | Negeri Sang Vampir
"Pak... berarti semua manusia bisa habis?" Seorang peserta didik bertanya dengan wajah serius.
Penulis tersenyum. "Secara hitungan matematika, begitulah jika tidak ada yang menghentikannya."
Di situlah penulis mulai mengajak mereka berpikir.
"Bagaimana jika vampir itu bukan makhluk menyeramkan?" "Bagaimana jika vampir itu adalah sifat buruk yang menular?"
Ruangan kembali sunyi. Anak-anak mulai memahami arah pembicaraan. Karena sesungguhnya dalam kehidupan nyata ada banyak "vampir" yang tidak memiliki taring. Mereka berpakaian rapi. Berbicara sopan. Bahkan mungkin tampak terhormat. Namun ketika kehilangan kejujuran dan amanah, mereka perlahan mengisap kehidupan bersama. Korupsi bukan hanya mengambil uang. Korupsi mengisap harapan. Korupsi mengisap kepercayaan. Korupsi mengisap kesempatan anak-anak untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik, pelayanan kesehatan yang lebih baik, dan masa depan yang lebih baik.
Seperti vampir dalam cerita, ia tidak selalu datang dengan wajah menyeramkan. Kadang ia hadir dalam bentuk pembenaran. Dalam bentuk budaya "asal bapak senang." Dalam bentuk kalimat, "semua orang juga melakukannya." Dalam bentuk sikap yang menganggap penyimpangan sebagai sesuatu yang biasa. Dan di situlah bahaya terbesar berada.
Ada sebuah pertanyaan yang sering mengusik hati penulis sebagai guru. Bagaimana jika suatu hari seorang guru bertanya kepada muridnya, "Nak, kalau besar nanti ingin menjadi apa?"
Lalu dengan polos seorang anak menjawab, "Saya ingin menjadi koruptor yang kaya." Kalimat itu memang terdengar sebagai sindiran. Namun sindiran seperti itu lahir dari kegelisahan. Sebab anak-anak belajar bukan hanya dari buku. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat. Mereka belajar dari keteladanan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!