VISI | Negeri Sang Vampir
Oleh: Drajat
- Guru
- Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- APKS PGRI Prov. Jabar
Ketika Korupsi Menular, Pendidikan Harus Menyalakan Cahaya Kejujuran
SUATU hari di ruang kelas, penulis mengajak peserta didik berbincang tentang sesuatu yang berbeda. Bukan tentang rumus. Bukan pula tentang ujian. Melainkan tentang makhluk yang selama ini hanya mereka kenal dari cerita dan film.
"Anak-anak," tanya penulis, "siapa yang pernah mendengar tentang vampir?"
Hampir seluruh tangan terangkat. Ada yang tersenyum. Ada yang tertawa. Ada pula yang mulai bercerita bahwa vampir adalah makhluk yang hidup dengan mengisap darah manusia. Lalu penulis bertanya kembali. "Kalau satu orang diisap darahnya oleh vampir, apa yang terjadi?"
"Jadi vampir juga, Pak!" Jawaban itu serempak terdengar dari berbagai sudut kelas.
Penulis kemudian mengambil spidol dan mulai menulis. "Sekarang kita belajar matematika." Misalkan ada satu vampir. Setiap satu minggu ia mengisap satu manusia. Manusia yang diisap berubah menjadi vampir. Minggu berikutnya ada dua vampir. Keduanya kembali mengisap dua manusia. Jumlah vampir menjadi empat. Minggu berikutnya menjadi delapan. Enam belas. Tiga puluh dua. Enam puluh empat. Begitulah seterusnya.
Anak-anak mulai memperhatikan. Mereka menghitung bersama. Mereka tersenyum ketika angka-angka itu semakin besar. Kemudian penulis menuliskan hasilnya. Minggu ke-10 terdapat 1.024 vampir. Minggu ke-11 menjadi 2.048. Minggu ke-20 telah mencapai 1.048.576. Dan ketika memasuki minggu ke-33, jumlahnya telah melebihi jumlah penduduk bumi. Ruangan kelas mendadak hening.
"Pak... berarti semua manusia bisa habis?" Seorang peserta didik bertanya dengan wajah serius.
Penulis tersenyum. "Secara hitungan matematika, begitulah jika tidak ada yang menghentikannya."
Di situlah penulis mulai mengajak mereka berpikir.
"Bagaimana jika vampir itu bukan makhluk menyeramkan?" "Bagaimana jika vampir itu adalah sifat buruk yang menular?"
Ruangan kembali sunyi. Anak-anak mulai memahami arah pembicaraan. Karena sesungguhnya dalam kehidupan nyata ada banyak "vampir" yang tidak memiliki taring. Mereka berpakaian rapi. Berbicara sopan. Bahkan mungkin tampak terhormat. Namun ketika kehilangan kejujuran dan amanah, mereka perlahan mengisap kehidupan bersama. Korupsi bukan hanya mengambil uang. Korupsi mengisap harapan. Korupsi mengisap kepercayaan. Korupsi mengisap kesempatan anak-anak untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik, pelayanan kesehatan yang lebih baik, dan masa depan yang lebih baik.
Seperti vampir dalam cerita, ia tidak selalu datang dengan wajah menyeramkan. Kadang ia hadir dalam bentuk pembenaran. Dalam bentuk budaya "asal bapak senang." Dalam bentuk kalimat, "semua orang juga melakukannya." Dalam bentuk sikap yang menganggap penyimpangan sebagai sesuatu yang biasa. Dan di situlah bahaya terbesar berada.
Ada sebuah pertanyaan yang sering mengusik hati penulis sebagai guru. Bagaimana jika suatu hari seorang guru bertanya kepada muridnya, "Nak, kalau besar nanti ingin menjadi apa?"
Lalu dengan polos seorang anak menjawab, "Saya ingin menjadi koruptor yang kaya." Kalimat itu memang terdengar sebagai sindiran. Namun sindiran seperti itu lahir dari kegelisahan. Sebab anak-anak belajar bukan hanya dari buku. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat. Mereka belajar dari keteladanan.
Jika yang sering mereka saksikan adalah bahwa kejujuran tampak kalah oleh kepentingan, maka tugas pendidikan menjadi jauh lebih berat. Karena guru harus menjelaskan sesuatu yang bertolak belakang dengan kenyataan yang mereka lihat. Guru berkata, "Jujurlah." Sementara dunia di luar kadang memberi kesan bahwa jalan pintas lebih menguntungkan. Guru berkata, "Amanah adalah kehormatan." Sementara mereka mendengar berbagai kabar tentang penyalahgunaan amanah. Di sinilah pendidikan diuji.
Namun penulis percaya, negeri ini tidak boleh menyerah. Sebab sejarah bangsa-bangsa besar selalu dimulai dari ruang kelas. Bukan dari gedung-gedung megah. Melainkan dari seorang guru yang terus menanamkan nilai. Guru mungkin tidak mampu menghentikan semua penyimpangan. Tetapi guru mampu mencegah lahirnya generasi baru yang menganggap penyimpangan sebagai hal biasa.
Setiap kali guru mengajarkan kejujuran, sesungguhnya ia sedang memutus rantai penularan. Setiap kali orang tua memberi teladan yang baik, sesungguhnya satu "vampir" kehilangan kekuatannya. Setiap kali seorang anak memilih jujur meskipun sulit, saat itu pula cahaya mulai mengusir kegelapan.
Dalam dunia hipnoterapi dikenal sebuah prinsip bahwa apa yang terus-menerus didengar dan dilihat akan membentuk keyakinan. Karena itu, anak-anak perlu lebih sering mendengar kalimat-kalimat yang menguatkan. "Kejujuran adalah kehormatan." "Amanah adalah kemuliaan." "Kesuksesan sejati lahir dari integritas."
Kalimat-kalimat seperti itu, jika diulang dengan kasih sayang dan keteladanan, perlahan menjadi bagian dari alam bawah sadar mereka. Di sanalah karakter dibangun. Bukan dengan ketakutan. Tetapi dengan kesadaran.
Matematika mengajarkan bahwa sesuatu yang berlipat ganda dapat berkembang sangat cepat. Begitu pula kebaikan. Satu guru yang jujur menginspirasi puluhan murid. Puluhan murid itu kelak menginspirasi ribuan orang. Maka kejujuran pun dapat bertumbuh secara eksponensial. Jika keburukan dapat menular, kebaikan pun demikian. Perbedaannya terletak pada pilihan yang kita ambil hari ini.
Sebagai guru, penulis memilih tetap percaya kepada anak-anak. Mereka adalah cahaya yang belum padam. Mereka masih memiliki keberanian untuk berkata benar. Mereka masih memiliki hati yang bersih. Tugas kita adalah menjaganya agar tidak redup. Karena negeri ini tidak membutuhkan semakin banyak "vampir" yang mengisap harapan.
Negeri ini membutuhkan manusia-manusia yang hidup dengan kejujuran, amanah, dan hati nurani. Dan selama masih ada guru yang mengajarkan kejujuran dengan keteladanan, selama masih ada orang tua yang membesarkan anak-anaknya dengan nilai-nilai luhur, harapan itu tetap hidup. Suatu hari nanti, ketika seorang guru bertanya, "Kelak kamu ingin menjadi apa?"
Semoga yang terdengar bukan jawaban yang lahir dari kekaguman kepada kekuasaan atau harta. Melainkan jawaban yang sederhana namun agung: "Saya ingin menjadi orang yang jujur dan bermanfaat." Sebab dari satu anak yang jujur, lahir keluarga yang jujur. Dari keluarga yang jujur, lahir masyarakat yang jujur. Dan dari masyarakat yang menjunjung kejujuran, berdirilah sebuah negeri yang kuat—bukan negeri para vampir, melainkan negeri yang diterangi cahaya integritas.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!