VISI | Matinya Kreativitas
Oleh Drajat
- Guru
- Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- APKS PGRI Prov. JabarÂ
 ADA satu tanda paling jelas ketika sebuah bangsa mulai kehilangan arah: kreativitas warganya perlahan mati. Bukan karena tidak ada ide, bukan karena tidak ada kemampuan, tetapi karena ruang untuk tumbuh itu ditutup secara halus, sistematis, bahkan kadang tanpa disadari.
Padahal kita tahu, sejak awal, pendidikan adalah pilar utama kemajuan bangsa. Tidak ada negara yang melesat tanpa menjadikan pendidikan sebagai prioritas. Tidak ada peradaban besar yang lahir tanpa menghormati ilmu pengetahuan. Namun yang terjadi hari ini, kita seperti berjalan di jalur yang berlawanan.
Negara-negara yang maju hari ini memiliki satu kesamaan: mereka tidak ragu berinvestasi besar dalam pendidikan. Mereka memahami bahwa masa depan tidak dibangun dalam satu malam, tetapi melalui proses panjang yang dimulai dari ruang kelas, laboratorium, dan pusat riset. Mereka tidak pelit anggaran. Mereka tidak setengah hati dalam kebijakan. Karena mereka sadar, setiap rupiah yang ditanamkan di pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi bangsa.
Sebaliknya, ketika pendidikan tidak menjadi prioritas, dampaknya tidak langsung terasa. Ia pelan, tetapi pasti. Generasi demi generasi tumbuh tanpa fondasi yang kuat. Ide ada, tetapi tidak berkembang. Potensi ada, tetapi tidak diarahkan. Dan pada akhirnya, kreativitas pun tergerus.
Kita sering mengira bahwa kreativitas anak muda kita menurun. Padahal bukan itu masalahnya. Anak-anak muda kita: cerdas, kritis, dan penuh ide. Namun sayangnya, banyak dari mereka yang tidak mendapatkan ruang. Ada yang memiliki gagasan inovatif, tetapi tidak didengar. Ada yang mencoba berbeda, tetapi dianggap menyimpang. Ada yang berani bersuara, tetapi justru ditekan. Kreativitas mereka tidak hilang. Ia hanya terhambat. Dan ketika hambatan itu terus terjadi, perlahan-lahan semangat itu padam.
Salah satu ciri lingkungan yang sehat adalah adanya ruang untuk kritik. Kritik bukan ancaman, tetapi bahan perbaikan. Namun dalam realitas kita hari ini, tidak sedikit yang melihat kritik sebagai gangguan. Suara yang berbeda dianggap tidak sejalan. Masukan yang konstruktif justru disalahartikan. Akibatnya: orang memilih diam, ide tidak disampaikan, dan inovasi tidak berkembang. Padahal kemajuan selalu lahir dari perbedaan pandangan. Ketika semua harus seragam, maka yang hilang adalah kreativitas.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!