VISI | Ketika Nurani Tergadaikan
Lalu, bagaimana memperbaiki keadaan? Pertama, pendidikan karakter harus berjalan seiring dengan keteladanan para pemegang amanah di setiap tingkat. Kedua, kebijakan publik perlu lebih peka terhadap suara masyarakat, terutama kelompok yang paling rentan. Ketiga, penegakan hukum harus berlangsung secara adil dan konsisten sehingga kepercayaan publik tetap terjaga. Keempat, ruang dialog perlu diperluas agar kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab dapat menjadi bahan perbaikan, bukan sekadar dipandang sebagai gangguan. Dan kelima, guru harus terus diberi ruang untuk menjadi penjaga nurani bangsa. Karena ketika banyak orang mulai kehilangan arah, ruang kelas sering kali menjadi tempat terakhir di mana kejujuran masih diajarkan tanpa syarat.
Pada akhirnya, pertanyaan peserta didik itu terus bergema dalam hati penulis. "Pak, negara ada di mana?" Sebagai guru, penulis ingin menjawabnya dengan penuh keyakinan. Negara hadir ketika kebijakan dibuat untuk kemaslahatan bersama. Negara hadir ketika amanah dijalankan dengan jujur. Dan negara hadir ketika setiap orang yang diberi kepercayaan tidak pernah membiarkan nuraninya tergadaikan. Sebab sesungguhnya sebuah bangsa tidak runtuh ketika menghadapi banyak persoalan.
Bangsa mulai rapuh ketika nurani berhenti menjadi penuntun. Karena itu, selama ruang-ruang kelas masih dipenuhi guru yang mengajarkan kejujuran, selama masih ada anak-anak yang percaya pada kebaikan, dan selama masih ada masyarakat yang berani menjaga integritas, harapan untuk memperbaiki negeri ini tidak akan pernah benar-benar padam.**
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!