VISI | Ketika Nurani Tergadaikan
Pertanyaan itu sederhana. Namun bagi seorang pendidik, ia menjelma menjadi renungan panjang. Karena setiap hari guru mengajarkan kejujuran, keadilan, kasih sayang, gotong royong, serta penghormatan terhadap hukum. Guru menanamkan keyakinan bahwa negara hadir untuk melindungi seluruh warga tanpa membedakan latar belakang, status sosial, ataupun kekuatan ekonomi.
Tetapi ketika peserta didik pulang ke rumah, membuka telepon genggam, menonton berita, atau membaca media sosial, mereka sering menjumpai kenyataan yang tidak selalu mudah dipahami. Mereka melihat masyarakat mengeluhkan kenaikan biaya hidup. Mereka mendengar kabar tentang pemutusan hubungan kerja. Mereka membaca berita mengenai dugaan korupsi yang nilainya fantastis. Mereka menyaksikan berbagai kasus kekerasan, main hakim sendiri, atau penyalahgunaan kewenangan yang mengguncang rasa keadilan.
Lalu mereka kembali bertanya, "Bukankah kita diajarkan saling menyayangi?" "Mengapa masih banyak orang diperlakukan tidak adil?"
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu membutuhkan jawaban panjang. Yang mereka cari sesungguhnya adalah kepastian bahwa nilai-nilai yang dipelajari di sekolah masih memiliki tempat dalam kehidupan berbangsa.
Sebagai guru, penulis sering merasa bahwa ruang kelas adalah oase kecil di tengah padang kehidupan yang tidak selalu teduh. Di dalam kelas, anak-anak belajar bahwa menyontek adalah salah. Mereka belajar bahwa mengambil hak orang lain adalah perbuatan tercela. Mereka belajar bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati. Mereka belajar meminta maaf ketika berbuat salah. Mereka belajar mengakui kesalahan dengan jujur. Semua nilai itu ditanamkan setiap hari. Namun pendidikan akan menghadapi tantangan besar apabila keteladanan sosial berjalan lebih lambat daripada pelajaran yang diberikan di sekolah. Karena sesungguhnya anak-anak belajar bukan hanya dari guru. Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat.
Bangsa yang besar bukan hanya diukur dari pertumbuhan ekonominya. Bukan pula dari tingginya gedung-gedung pencakar langit. Bangsa yang besar diukur dari kepekaannya terhadap penderitaan warganya. Ketika ada rakyat kecil yang kesulitan memperoleh pekerjaan, negara semestinya hadir melalui kebijakan yang membuka kesempatan. Ketika biaya hidup meningkat, negara dituntut menjaga keseimbangan agar kelompok rentan tidak semakin terbebani. Ketika terjadi pelanggaran hukum atau tindakan main hakim sendiri, negara harus memastikan proses hukum berjalan adil sehingga masyarakat tidak kehilangan kepercayaan. Kehadiran negara tidak selalu diukur dari banyaknya peraturan. Kehadiran negara terasa ketika rakyat merasakan perlindungan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!