Farhan Ancam Segel Six Nine Padel Terkait Penebangan 10 Pohon 31 Jul 2026 Ketua Komisi X Prioritaskan Kesejahteraan Guru usai Putusan MK soal MBG 31 Jul 2026 Sopir Truk LPG Mengaku Mengantuk sebelum Kecelakaan di Bandung 31 Jul 2026 Pajak Sudah Dibayar Masih Menunggak, Bunda Hermin Siap Kawal Hingga Tuntas 31 Jul 2026 Pikap Bermuatan Tahu Tabrak Truk di Tol Cipularang, Dua Orang Tewas 31 Jul 2026 Indonesia Pernah Tundukkan Timor Leste 3-1 di Piala AFF 31 Jul 2026 Kapan Musim Hujan Kembali Guyur Indonesia? Ini Prediksi BMKG 31 Jul 2026 Gus Heri Luncurkan MotivAction, Inovasi Literasi Islami di Era Digital 31 Jul 2026 Kejagung Tetapkan Nurman Herin Tersangka Kasus TPPU Febrie Adriansyah 31 Jul 2026 Istana Respons Putusan MK soal Anggaran MBG Dipisah dari Pendidikan 31 Jul 2026 Farhan Ancam Segel Six Nine Padel Terkait Penebangan 10 Pohon 31 Jul 2026 Ketua Komisi X Prioritaskan Kesejahteraan Guru usai Putusan MK soal MBG 31 Jul 2026 Sopir Truk LPG Mengaku Mengantuk sebelum Kecelakaan di Bandung 31 Jul 2026 Pajak Sudah Dibayar Masih Menunggak, Bunda Hermin Siap Kawal Hingga Tuntas 31 Jul 2026 Pikap Bermuatan Tahu Tabrak Truk di Tol Cipularang, Dua Orang Tewas 31 Jul 2026 Indonesia Pernah Tundukkan Timor Leste 3-1 di Piala AFF 31 Jul 2026 Kapan Musim Hujan Kembali Guyur Indonesia? Ini Prediksi BMKG 31 Jul 2026 Gus Heri Luncurkan MotivAction, Inovasi Literasi Islami di Era Digital 31 Jul 2026 Kejagung Tetapkan Nurman Herin Tersangka Kasus TPPU Febrie Adriansyah 31 Jul 2026 Istana Respons Putusan MK soal Anggaran MBG Dipisah dari Pendidikan 31 Jul 2026

VISI | Ketika Nurani Tergadaikan

Desi Rossilawati
Jumat, 31 Juli 2026 | 09:24 WIB
Bagikan
VISI | Ketika Nurani Tergadaikan

Pertanyaan itu sederhana. Namun bagi seorang pendidik, ia menjelma menjadi renungan panjang. Karena setiap hari guru mengajarkan kejujuran, keadilan, kasih sayang, gotong royong, serta penghormatan terhadap hukum. Guru menanamkan keyakinan bahwa negara hadir untuk melindungi seluruh warga tanpa membedakan latar belakang, status sosial, ataupun kekuatan ekonomi.

Tetapi ketika peserta didik pulang ke rumah, membuka telepon genggam, menonton berita, atau membaca media sosial, mereka sering menjumpai kenyataan yang tidak selalu mudah dipahami. Mereka melihat masyarakat mengeluhkan kenaikan biaya hidup. Mereka mendengar kabar tentang pemutusan hubungan kerja. Mereka membaca berita mengenai dugaan korupsi yang nilainya fantastis. Mereka menyaksikan berbagai kasus kekerasan, main hakim sendiri, atau penyalahgunaan kewenangan yang mengguncang rasa keadilan. 

Lalu mereka kembali bertanya, "Bukankah kita diajarkan saling menyayangi?" "Mengapa masih banyak orang diperlakukan tidak adil?"

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu membutuhkan jawaban panjang. Yang mereka cari sesungguhnya adalah kepastian bahwa nilai-nilai yang dipelajari di sekolah masih memiliki tempat dalam kehidupan berbangsa.

Sebagai guru, penulis sering merasa bahwa ruang kelas adalah oase kecil di tengah padang kehidupan yang tidak selalu teduh. Di dalam kelas, anak-anak belajar bahwa menyontek adalah salah. Mereka belajar bahwa mengambil hak orang lain adalah perbuatan tercela. Mereka belajar bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati. Mereka belajar meminta maaf ketika berbuat salah. Mereka belajar mengakui kesalahan dengan jujur. Semua nilai itu ditanamkan setiap hari. Namun pendidikan akan menghadapi tantangan besar apabila keteladanan sosial berjalan lebih lambat daripada pelajaran yang diberikan di sekolah. Karena sesungguhnya anak-anak belajar bukan hanya dari guru. Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat.

Bangsa yang besar bukan hanya diukur dari pertumbuhan ekonominya. Bukan pula dari tingginya gedung-gedung pencakar langit. Bangsa yang besar diukur dari kepekaannya terhadap penderitaan warganya. Ketika ada rakyat kecil yang kesulitan memperoleh pekerjaan, negara semestinya hadir melalui kebijakan yang membuka kesempatan. Ketika biaya hidup meningkat, negara dituntut menjaga keseimbangan agar kelompok rentan tidak semakin terbebani. Ketika terjadi pelanggaran hukum atau tindakan main hakim sendiri, negara harus memastikan proses hukum berjalan adil sehingga masyarakat tidak kehilangan kepercayaan. Kehadiran negara tidak selalu diukur dari banyaknya peraturan. Kehadiran negara terasa ketika rakyat merasakan perlindungan.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.