VISI | Ketika Nurani Tergadaikan
`Pendidikan sesungguhnya memiliki hubungan yang sangat erat dengan keadilan sosial. Mengapa? Karena sekolah adalah tempat pertama anak-anak belajar tentang negara. Di sekolah mereka mengenal aturan. Mengenal musyawarah. Mengenal hak dan kewajiban. Mengenal arti tanggung jawab. Apabila nilai-nilai itu terus dipelihara, sekolah akan melahirkan generasi yang percaya bahwa kejujuran adalah jalan hidup. Sebaliknya, apabila mereka terus-menerus menyaksikan jurang yang lebar antara nilai yang diajarkan dan kenyataan yang mereka lihat, muncul risiko yang tidak kecil: sinisme.
Mereka mulai bertanya, "Apakah kejujuran benar-benar penting?" "Apakah integritas masih dihargai?" Pertanyaan seperti itu tidak boleh dibiarkan tumbuh tanpa jawaban.
Jawaban terbaik bukanlah pidato. Jawaban terbaik adalah keteladanan. Guru memahami hal itu. Karena guru tidak cukup hanya berkata, "Datanglah tepat waktu." Guru harus lebih dahulu datang tepat waktu. Guru tidak cukup hanya berkata, "Jangan membuang sampah sembarangan." Guru harus lebih dahulu menjaga kebersihan. Guru tidak cukup hanya berkata, "Jujurlah." Guru harus menunjukkan kejujuran dalam setiap tindakannya. Prinsip yang sama berlaku dalam penyelenggaraan negara. Kepercayaan publik lahir ketika kata dan perbuatan berjalan beriringan.
Sebagai praktisi hypnoteaching, penulis percaya bahwa setiap kata yang terus diulang akan membentuk keyakinan. Apabila anak-anak terus mendengar bahwa bangsa ini masih memiliki orang-orang baik yang bekerja dengan jujur, mereka akan tumbuh dengan harapan. Namun harapan itu harus didukung oleh contoh nyata. Harapan tidak boleh hanya menjadi slogan. Harapan harus hidup dalam kebijakan yang berpihak kepada kepentingan umum, pelayanan publik yang berintegritas, dan penegakan hukum yang adil.
Di tengah berbagai tantangan, penulis tetap memilih berdiri di ruang kelas. Bukan karena tidak mengetahui persoalan. Melainkan karena percaya bahwa perubahan terbesar selalu dimulai dari pendidikan. Setiap kali melihat peserta didik berdiskusi dengan santun, saling menghargai pendapat, berani mengakui kesalahan, dan mau membantu temannya, penulis merasa optimistis. Masih ada harapan. Harapan itu tumbuh di ruang-ruang kelas. Harapan itu tumbuh dari guru-guru yang tetap mengajar dengan hati. Harapan itu tumbuh dari orang tua yang tidak pernah berhenti mendoakan anak-anaknya. Harapan itu tumbuh dari masyarakat yang masih percaya bahwa kejujuran bukanlah pilihan yang sia-sia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!