VISI | Isra Mikraj: Jejak Langit dan Perintah Shalat
Oleh Neng Dara Affiah
- Dosen
- Sosiolog
- Aktif dalam kerja-kerja keagamaan dan kebudayaan serta kerja-kerja hak-hak asasi manusia, khususnya hak-hak asasi perempuan.
SETIAP tahun, pada tanggal 27 Rajab, yang pada tahun ini bertepatan dengan hari Jumat, 16 Januari 2026, umat Islam di seluruh dunia memperingati peristiwa Isra Mikraj. Peristiwa ini memiliki makna yang sangat penting dan bersejarah. Pada malam itulah Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat langsung dari Allah SWT, yang kemudian diwajibkan sebanyak lima kali dalam sehari semalam.
Peringatan Isra Mikraj lazim diselenggarakan di masjid-masjid, musala, pesantren, madrasah, serta berbagai ruang publik Muslim lainnya. Di luar praktik perayaan tersebut, terdapat perbedaan pandangan dan penafsiran di kalangan ulama dan cendekiawan Muslim mengenai hakikat pengalaman Isra Mikraj. Perbedaan itu berkisar pada pertanyaan apakah peristiwa tersebut dialami Nabi Muhammad SAW secara ruhani, secara jasmani, atau melalui perpaduan antara ruh dan jasad. Beragam pendapat mengenai hal ini telah banyak dikemukakan, dan masing-masing memiliki dasar pijakan teologis maupun historis yang cukup kuat.
Tulisan ini berupaya menelusuri kembali berbagai pandangan tersebut sebagai bentuk ekspresi penulis dalam memperingati dan merayakan Isra Mikraj. Sebagai pengantar untuk memasuki perdebatan itu, penulis terlebih dahulu menguraikan kisah peristiwa Isra Mikraj sebagaimana terekam dalam sumber-sumber klasik.
Kisah tentang Isra Mikraj Secara bahasa, isra berasal dari bahasa Arab yang berarti perjalanan di malam hari, yakni perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Sementara itu, mikraj berarti perjalanan Nabi dari Masjidil Aqsa naik menembus lapisan-lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat lima waktu.
Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an melalui Surah al-Isra’ (17) ayat 1 dan Surah an-Najm (53) ayat 13–18. Menurut riwayat sejarah, peristiwa Isra Mikraj terjadi sekitar tahun 621 M. Pada saat itu, Nabi Muhammad SAW sedang beristirahat di Hijr. Malaikat Jibril datang kepadanya dan mengusik kakinya. Setelah beberapa kali kedatangan, Malaikat Jibril akhirnya mengangkat Nabi dan mengajaknya menuju pintu Masjidil Haram. Di sana telah menanti seekor binatang putih bernama Buraq, yang digambarkan sebagai makhluk dengan bentuk di antara kuda dan keledai, serta memiliki sayap di sisi tempat ia menggerakkan kakinya (Martin Lings, Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik , 155).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!