VISI | Board of Peace dan Logika Gus Baha’
Sikap Nabi ini disebut Mudarah. Mengorbankan sedikit "ego duniawi" (bersikap manis): Demi kemaslahatan agama atau keselamatan diri/umat.
Tujuannya: Untuk meredam potensi kejahatan orang tersebut (daf'ul mafasid). Jika Nabi kasar kepada Uyainah. Yang merupakan ketua suku yang keras. Uyainah bisa marah. Lalu memprovokasi sukunya untuk memusuhi Nabi.
Tetapi Nabi memberikan penilaian objektif (fakta) kepada Aisyah tentang karakter Unaiyah dengan mengatakan "Dia adalah seburuk-buruk saudara di dalam kabilahnya". Untuk apa? Agar Aisyah waspada. Dan ini bukan sedang menggunjing (ghibah) tanpa tujuan.
Sehingga menurut Gus Baha’: Menghadapi orang "Toxic" tidak harus dengan konfrontasi. Gus Baha’ mengajarkan bahwa kita tidak harus selalu "jujur-jujuran" frontal di depan orang yang memiliki tabiat buruk. Apalagi jika orang itu punya kuasa atau “setengah gila”.
Melawan orang kasar dengan kekasaran hanya akan menimbulkan kerusakan lebih besar. "Mengalah" dengan bersikap sopan kepada mereka adalah strategi untuk "menyetop" kejahatan mereka agar tidak melebar.
Tetapi Gus Baha’ mengingatkan. Hadits tersebut adalah kasus khusus. Jangan dijadikan dalil untuk boleh bermuka dua dalam konteks Munafik. Lain di hati lain di mulut dalam hal keimanan. Nabi tidak memuji Uyainah sebagai "Orang Saleh" atau "Wali Allah". Nabi hanya bersikap sopan dan halus.
Sekali lagi: Tidak dengan bobot dan kadar yang sama. Tetapi kita bisa mengaitkan konsep Mudarah dari Gus Baha’ dengan dinamika geopolitik dunia saat ini. Terkait langkah Presiden Prabowo yang bergabung dalam BoP bentukan Trump.
Yaitu Diplomasi sebagai "Mudarah" (Bukan Menyerah). Langkah Prabowo bergabung dengan inisiatif Trump boleh dikritik sebagai sikap "tunduk" atau mengkhianati politik bebas-aktif. Tetapi juga boleh dilihat dalam kacamata Mudarah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!