VISI | Board of Peace dan Logika Gus Baha’
Trump dan Unaiyah
Kedua: Dalam hadits Shahih Bukhari (Nomor 6032) dan Shahih Muslim (Nomor 2591), ada seorang laki-laki yang berniat menemui Nabi. Walaupun dalam hadits disebut "seorang laki-laki", tetapi para ulama pensyarah hadits (seperti Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari) mengonfirmasi bahwa sosok tersebut adalah Uyainah bin Hishn Al-Fazari.
Uyainah adalah sosok yang disebut sebagai "Al-Ahmaq al-Mutha'" (Orang pandir yang ditaati). Prototipe orang yang "kurang sopan secara lahiriah". Sombong. Semau gue.
Dalam hadits itu dituliskan: Dari Aisyah ra., bahwa ada seorang laki-laki (Uyainah bin Hishn) meminta izin untuk menemui Nabi SAW. Ketika Nabi melihatnya, beliau berkata kepada Aisyah: "Dia adalah seburuk-buruk saudara di dalam kabilahnya" atau "Seburuk-buruk anak di dalam kabilahnya."
Namun ketika orang itu sudah duduk, Nabi SAW menyambutnya dengan wajah yang berseri-seri dan bersikap ramah kepadanya.
Setelah orang itu pergi, Aisyah bertanya: "Wahai Rasulullah, ketika engkau melihat orang itu tadi engkau berkata begini dan begitu, namun kemudian engkau bermuka manis dan ramah kepadanya?"
Rasulullah SAW bersabda: "Wahai Aisyah, kapan engkau melihatku berkata kasar? Sesungguhnya seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan (dijauhi) oleh manusia karena takut akan keburukan (ucapan/perbuatannya)."
Dalam kajian Gus Baha’, peristiwa itu dimaknai sebagai kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial Rasulullah. Yaitu: Diplomasi "Menjaga Gengsi" Suku. Gus Baha’ juga menjelaskan perbedaan Mudarah (Basa-basi Strategis) dan Nifaq (munafik).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!