VISI | Board of Peace dan Logika Gus Baha’
Perjanjian ini pula yang menjadi pintu pembuka jatuhnya Mekkah ke tangan kaum Muslimin tanpa pertumpahan darah dua tahun kemudian. Tahun ke-8 Hijriah.
Protes Umar
Reaksi Umar bin Khattab ra., terhadap Perjanjian Hudaibiyah adalah kisah yang sering diangkat Gus Baha’. Tetapi menariknya, Gus Baha’ menyebut Umar "Salah" tapi "Wajar". Mengapa? Gus Baha’ memberikan perspektif yang sangat manusiawi mengenai kejadian ini. Pertama: Logika Umar (Kebenaran Frontal). Umar mewakili logika rakyat banyak yang ingin "pokoknya benar harus menang" dan "jangan mau diinjak". Ini adalah sikap heroik yang penting dalam perjuangan.
Kedua: Logika Nabi (Kebenaran Strategis). Nabi melihat apa yang tidak dilihat Umar. Nabi tahu bahwa dengan "mengalah" secara tulisan, beliau sedang memenangkan masa depan.
Pelajaran untuk Kita: Gus Baha’ mengingatkan agar kita tidak buru-buru menghujat kebijakan pemimpin yang tampak "lemah" di mata publik. Bisa jadi, itu adalah strategi Mudarah. Untuk menghindari tabrakan yang lebih besar. Yang bisa menghancurkan umat.
Relevansi dengan bergabungnya Indonesia ke BoP hampir sama. Bedanya tentu bukan Nubuwah. Karena Nabi akhir zaman adalah Muhammad SAW. Tidak ada lagi yang mampu menyamai dengan bobot dan kadar yang sama.
Tetapi kritik dalam posisi Umar ra., wajar. Marah. Karena merasa harga diri bangsa Indonesia terkoyak dengan bergabung ke badan bentukan Trump. Ini adalah wujud kecintaan pada kedaulatan (mirip semangat Umar). Dan ini penting. Harus ada.
Tetapi posisi Pemerintah boleh jadi sedang "membeli waktu" atau "mencari ruang" agar Indonesia tidak tergilas oleh kebijakan superpower yang tidak terduga.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!