VISI | Board of Peace dan Logika Gus Baha’
Oleh S. Alamsyah
- Penulis adalah jurnalis
- Kandidat doktor Hukum dan Pembangunan Universitas Airlangga
- Pendiri Pusat Studi Pembangunan berbasis Pancasila
SEPEKAN ini kalimat Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian menjadi trending. Banyak sekali yang mengecam. Karena dewan bentukan Donald Trump ini: dari sisi redaksi dan roadmap tidak menguntungkan Palestina. Pun begitu suara di Indonesia. Banyak sekali yang mengecam Prabowo. Yang memutuskan Indonesia bergabung.
Semua analisis, pendapat dan pemikiran yang mengecam memiliki kadar kebenaran. Juga logika yang masuk akal. Karena sekali lagi: bukan saja tidak menguntungkan Palestina. Malah disebut menguntungkan Israel dan Trump pribadi, sebagai Ketua BoP.
Saya mencoba membaca dari sudut pandang lain. Sama sekali tidak untuk menandingi logika yang mengecam. Karena saya harus berempati dengan pikiran dan nalar para pengkritik BoP yang membela Palestina.
Tetapi saya juga harus berempati bagaimana sekian puluh tahun, rakyat Palestina: Termasuk anak-anak dibunuh mesin perang Israel tanpa bisa kita hentikan. Bahkan PBB pun tak bisa menghentikan.
Artinya negara se-dunia ini tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi harus ada upaya lain.
Dalam tulisan ini saya ingin mengulas kisah sejarah Nubuwah (perjalanan yang dialami Nabi Muhammad SAW). Tanpa sedikitpun tujuan untuk menyamakan bobot dan kadarnya. Hanya menggunakan sebagai refleksi. Dengan membaca logika yang pernah disampaikan Ulama Indonesia, KH Bahauddin Nur Salim atau yang akrab disapa Gus Baha’.
Pertama: Refleksi sejarah perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian ini terjadi pada tahun ke-6 Hijriah. Antara kaum Muslimin yang diwakili langsung Rasulullah. Dengan Kafir Quraisy. Yang diwakili pemimpin tertinggi mereka: Suhail bin Amr.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!