VISI | Berbagi Kebahagiaan
Jawaban berikutnya membuat penulis terdiam. "Kenapa harus malu, Yah? Bukankah kalau nilainya terus besar bisa membuat kita sombong?"
Kalimat itu meluncur begitu saja dari seorang anak sekolah dasar. Namun bagi penulis, kalimat tersebut terasa seperti tamparan lembut. Selama ini, bukankah kita sering mengukur keberhasilan hanya dari angka? Kita menganggap nilai tinggi sebagai satu-satunya ukuran kecerdasan. Kita memuja peringkat. Kita memberi tepuk tangan kepada mereka yang selalu berada di atas. Sementara yang lain sering kali hanya menjadi penonton. Tanpa sadar, kita menciptakan dunia yang membuat sebagian anak merasa istimewa dan sebagian lainnya merasa biasa-biasa saja. Padahal setiap anak sedang berjuang. Setiap anak memiliki cerita. Setiap anak memiliki medan tempurnya sendiri.
Sebagai guru, penulis harus jujur mengakui bahwa dunia pendidikan terkadang terjebak pada cara pandang yang sempit. Kita terlalu sering berbicara tentang siapa yang paling pintar. Siapa yang juara. Siapa yang mendapat nilai sempurna. Sementara kita lupa memberi penghargaan kepada anak yang sedang berusaha memperbaiki dirinya. Anak yang sebelumnya mendapat nilai dua lalu naik menjadi empat. Anak yang sebelumnya takut bertanya lalu mulai berani mengangkat tangan. Anak yang sebelumnya malas membaca lalu mulai membuka buku. Bukankah itu juga keberhasilan? Bukankah itu juga layak dirayakan? Sayangnya, sistem sering kali hanya melihat hasil akhir. Bukan prosesnya.
Ada sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan. Mengapa tepuk tangan sering hanya diberikan kepada mereka yang berada di puncak? Mengapa kita lupa bahwa anak yang berada di tengah bahkan di bawah juga sedang berjuang? Padahal hidup bukan perlombaan untuk menjadi nomor satu setiap saat. Hidup adalah proses bertumbuh menjadi versi terbaik diri sendiri. Anak yang mendapat nilai sepuluh mungkin layak diberi apresiasi. Tetapi anak yang berhasil bangkit dari nilai dua menjadi empat juga layak diberi penghargaan. Karena keberanian untuk terus mencoba sering kali lebih berharga daripada sekadar hasil yang sempurna.
Berita Terkait
Komentar (1)
Tulis Komentar
Eva Djuliawati
2 months agoVery inspiring. Sometimes we are not aware about our students feeling and efforts to be better forever. It's an excellent reminder to be done in our daily life. Thank you for your excellent reminder for me as a wife. mother and also an English teacher.