VISI | Asing di Negeri Sendiri (Refleksi Nyawa Sang Buah Hati)
Negeri ini sering menyebut dirinya kaya raya. Namun kekayaan sejati suatu bangsa bukan di APBN, melainkan di kemampuannya melindungi yang paling lemah.
Jika seorang anak usia sepuluh tahun harus menulis surat perpisahan kepada ibunya karena tak mampu membeli buku, maka ada yang sangat keliru dalam prioritas kita. Kita membangun jalan tol, tetapi lupa membangun jalan empati. Kita menggenjot pertumbuhan ekonomi, tetapi abai pada pertumbuhan nurani. Kita bicara bonus demografi, tetapi kehilangan generasi dalam diam.
Surat kecil itu seharusnya mengguncang kita semua. Bukan sekadar viral sesaat. Bukan sekadar bahan perdebatan politik. Ia adalah pengingat paling keras bahwa: Negara boleh besar dalam angka, tetapi akan tampak kecil jika gagal hadir di hati rakyatnya. Jangan biarkan ada Kertas Tii Mama Reti berikutnya. Jangan biarkan anak-anak kita merasa asing di negeri sendiri. Karena satu nyawa yang hilang bukan sekadar tragedi keluarga— ia adalah cermin wajah bangsa. Dan pantulan itu hari ini sungguh menyakitkan untuk ditatap.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!