VISI | Asing di Negeri Sendiri (Refleksi Nyawa Sang Buah Hati)
Oleh Drajat
- Guru
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- Mindshaper Nusantara
- APKS PGRI Prov. Jabar
DUNIA memang sedang bergerak cepat. Angka-angka anggaran berlari di layar presentasi, jargon program bergema di podium, dan pidato pembangunan terus disiarkan tanpa jeda. Namun di sudut negeri ini—jauh dari gemerlap angka triliunan—seorang anak berusia sepuluh tahun memilih mengakhiri hidupnya karena sesuatu yang bagi kita nyaris tak bernilai: uang sepuluh ribu rupiah. Sepuluh ribu rupiah. Nilai yang bahkan tak cukup untuk parkir kendaraan di kota besar.
Nilai yang sering kita keluarkan tanpa berpikir dua kali. Namun bagi seorang anak kelas 4 SD, YBR, uang itu adalah batas terakhir harapan. Ia tidak marah. Ia tidak mengamuk. Ia tidak mencaci dunia.
Ia menulis surat. Dalam bahasa ibunya sendiri, bahasa tanah kelahiran yang sederhana dan jujur, ia berpamitan. Tidak ada dendam, tidak ada kutukan. Yang ada justru ketenangan yang menyesakkan:
“Mama baik sudah. Kalau saya meninggal, mama jangan menangis.”
“Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya.”
“Selamat tinggal mama.”
Kalimat-kalimat itu bukan sekadar tulisan. Ia adalah jeritan paling sunyi yang pernah dilahirkan oleh kemiskinan struktural, pengabaian sosial, dan negara yang terlambat—atau bahkan tidak pernah hadir.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!