VISI | Asing di Negeri Sendiri (Refleksi Nyawa Sang Buah Hati)
Bagi anak dari keluarga mampu, itu sepele. Bagi anak miskin, itu adalah palu yang memukul harga diri setiap hari. Dan ketika harga diri anak runtuh, jangan heran jika ia merasa asing—bahkan di negerinya sendiri.
Di Mana Kita Semua?
Tragedi ini bukan hanya kegagalan satu ibu. Ia adalah kegagalan kolektif. Di mana tetangga? Di mana RT dan RW? Di mana kepala desa? Di mana guru? Di mana tokoh agama dan tokoh adat? Di mana anggota dewan yang rajin memasang baliho?
Kita terlalu sering hadir setelah tragedi, bukan sebelum. Datang membawa karangan bunga, bukan uluran tangan. Padahal, satu buku tulis. Satu pensil. Satu percakapan empatik.
Satu kunjungan rumah. Itu mungkin sudah cukup untuk menyelamatkan satu nyawa. Mari jujur. Anak itu tidak memilih mati karena uang sepuluh ribu rupiah. Ia memilih mati karena merasa tidak ada satu pun yang bisa menolongnya. Ia merasa sendirian.
Ia merasa tak terlihat. Ia merasa asing.
Dan perasaan itu jauh lebih mematikan daripada kemiskinan itu sendiri. Kemiskinan bisa dilawan dengan kebijakan. Tetapi keterasingan lahir dari ketidakpedulian.
Refleksi untuk Negeri
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!