VISI | Asing di Negeri Sendiri (Refleksi Nyawa Sang Buah Hati)
Ketika Anak Kecil Memikul Beban Terlalu Besar
Anak seusia itu seharusnya memikirkan permainan, tawa, dan rasa ingin tahu. Bukan soal harga buku dan pensil. Bukan soal rasa bersalah karena membebani ibunya yang miskin. Bukan pula tentang hidup dan mati. Namun anak ini telah sampai pada kesimpulan paling tragis: bahwa keberadaannya adalah beban. Di sinilah kita harus berhenti dan bertanya dengan jujur—tanpa pembelaan diri, tanpa retorika politik. Bagaimana mungkin seorang anak miskin merasa tidak punya satu pun tempat untuk meminta pertolongan? Ke mana perginya sekolah, guru, tokoh masyarakat, aparat desa, lembaga sosial, dan negara? Apakah kita benar-benar hadir, atau hanya sibuk merasa hadir?
Negara yang Ramai Anggaran, Sunyi Empati
Di sisi lain, negeri ini bangga mengumumkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Setiap hari, lebih dari satu triliun rupiah digelontorkan. Angka yang luar biasa besar. Program yang pada konsepnya tampak mulia.
Namun tragedi ini menelanjangi kenyataan pahit: anggaran besar tidak otomatis menjamin kehadiran negara. Karena yang dibutuhkan anak itu bukan sekadar makanan di siang hari. Ia membutuhkan jaminan rasa aman. Ia membutuhkan akses alat belajar. Ia membutuhkan seseorang yang mau mendengar dan bertindak cepat.
Ironisnya, ketika hasil Tes Kemampuan Akademik siswa SMA/SMK anjlok, yang disalahkan adalah guru dan buku pelajaran. Padahal akar persoalan jauh lebih dalam: ketimpangan sosial, kemiskinan ekstrem, kesehatan mental anak, dan lingkungan yang gagal menjadi pelindung. Negara sibuk menghitung porsi makan, tetapi lupa menghitung luka batin anak-anaknya.
Sekolah seharusnya menjadi rumah kedua. Tempat anak merasa aman untuk berkata, “Saya tidak punya uang.” Namun kenyataannya, banyak sekolah—tanpa sadar—menjadi ruang yang mempermalukan kemiskinan.
Tugas-tugas yang mensyaratkan pembelian alat. Kegiatan yang mengandaikan semua anak mampu. Ucapan guru yang tanpa empati: “Kenapa belum beli?”
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!