VISI | Abai Pendidikan
Lebih menyedihkan lagi ketika guru, sebagai ujung tombak pendidikan, justru dibiarkan dalam ketidakpastian. Regulasi yang berubah-ubah, pengangkatan yang tak kunjung jelas, hingga kesejahteraan yang jauh dari layak, menjadi realitas pahit yang tak bisa disangkal. Ada guru honorer yang menerima honor ratusan ribu rupiah per bulan—angka yang bahkan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Bagaimana mungkin kita menuntut kualitas pembelajaran, kreativitas, dan dedikasi maksimal jika penghargaan terhadap profesi guru masih setengah hati? Di satu sisi kita berharap lahir generasi emas; di sisi lain, para pembimbing generasi itu sendiri masih berjuang sekadar untuk bertahan.
Menjadi guru bukan sekadar pekerjaan; ia adalah panggilan. Banyak guru tetap bertahan bukan karena gaji, tetapi karena idealisme dan cinta terhadap anak didik. Namun idealisme tidak bisa selamanya dijadikan tameng untuk menutup ketidakadilan struktural.
Realitas bahwa lulusan sarjana pendidikan masih harus menerima upah di bawah standar minimum menunjukkan adanya kesenjangan antara retorika dan kebijakan. Kita sering menyebut guru sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa.” Tetapi bukankah seharusnya mereka tidak lagi menjadi pahlawan dalam pengertian pengorbanan tanpa penghargaan?
Sistem yang membiarkan guru honorer hidup dalam ketidakpastian bukan hanya persoalan administratif; ia adalah cerminan dari bagaimana negara memandang pendidikan. Jika guru diposisikan sekadar pelengkap sistem, bukan aktor utama pembangunan manusia, maka jangan heran jika kualitas pendidikan berjalan di tempat.
Lebih dari itu, ketika profesi lain yang terkait program tertentu mendapatkan kepastian hukum dan gaji yang lebih jelas, sementara guru terus berjuang dalam kerumitan regulasi, muncul rasa ironi yang sulit dibantah. Bukan untuk membandingkan siapa yang lebih layak, tetapi untuk menegaskan bahwa pendidikan seharusnya tidak menjadi prioritas kesekian.
Negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Anak-anak Indonesia kerap menorehkan prestasi di ajang internasional. Banyak akademisi kita diakui dunia. Namun kecerdasan tanpa integritas adalah bangunan tanpa fondasi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!