Indonesia Perkuat Keterampilan dan Perlindungan Pekerja Hadapi Perubahan Dunia Kerja 25 Aug 2026 Bantu Padamkan Karhutla, Ilmuwan RI Temukan Pemadam Api dari Singkong 25 Aug 2026 1.356 Knalpot Brong Hasil Razia di Majalengka Bakal Disulap Jadi Monumen Maung 25 Aug 2026 Polri Salurkan Logistik dan Oksigen untuk Penanganan Karhutla 25 Aug 2026 Chelsea Menang 3-2 atas Fulham dalam Drama Lima Gol 25 Aug 2026 Uzbekistan Bidik Pusat Keuangan Digital Asia Tengah 25 Aug 2026 Kemenhut Sanksi 6 Perusahaan akibat Karhutla Berulang di Kalimantan 25 Aug 2026 Harga Emas Antam Hari Ini Rp2,768 Juta per Gram 25 Aug 2026 Daftar Harga BBM Pertamina Hari Ini 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Indonesia Perkuat Keterampilan dan Perlindungan Pekerja Hadapi Perubahan Dunia Kerja 25 Aug 2026 Bantu Padamkan Karhutla, Ilmuwan RI Temukan Pemadam Api dari Singkong 25 Aug 2026 1.356 Knalpot Brong Hasil Razia di Majalengka Bakal Disulap Jadi Monumen Maung 25 Aug 2026 Polri Salurkan Logistik dan Oksigen untuk Penanganan Karhutla 25 Aug 2026 Chelsea Menang 3-2 atas Fulham dalam Drama Lima Gol 25 Aug 2026 Uzbekistan Bidik Pusat Keuangan Digital Asia Tengah 25 Aug 2026 Kemenhut Sanksi 6 Perusahaan akibat Karhutla Berulang di Kalimantan 25 Aug 2026 Harga Emas Antam Hari Ini Rp2,768 Juta per Gram 25 Aug 2026 Daftar Harga BBM Pertamina Hari Ini 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026 25 Aug 2026

VISI | Abai Pendidikan

ED
Jumat, 13 Februari 2026 | 09:15 WIB
Bagikan
VISI | Abai Pendidikan

Oleh Drajat

PENDIDIKAN selalu disebut sebagai pilar utama bangsa. Kita hafal betul kalimat itu, mengulangnya dalam pidato, menuliskannya dalam dokumen resmi, dan menjadikannya slogan dalam berbagai forum. Namun, pertanyaannya sederhana: apakah kita benar-benar memperlakukannya sebagai pilar, atau hanya sebagai ornamen?

Sejarah bangsa-bangsa besar menunjukkan satu pola yang sama: mereka menempatkan pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Jepang bangkit dari kehancuran perang dengan membangun sistem pendidikan yang disiplin dan berbasis riset. Korea Selatan, yang pada 1960-an masih tertinggal, kini menjadi raksasa teknologi karena konsisten mengembangkan sumber daya manusia melalui pendidikan. Negara-negara Skandinavia menjaga kualitas hidup warganya melalui sistem pendidikan yang inklusif dan bermutu.

Di negeri ini, pendidikan juga sering dielu-elukan sebagai kunci kemajuan. Namun dalam praktik, kebijakan yang lahir kerap tidak mencerminkan keberpihakan yang utuh. Pendidikan seperti menjadi agenda sekunder—penting dalam wacana, tetapi mudah dikorbankan dalam realitas.

Ironisnya, kita hidup di zaman ketika pengetahuan adalah mata uang global. Dunia bergerak cepat dalam era kecerdasan buatan, transformasi digital, dan ekonomi berbasis kreativitas. Di tengah arus besar itu, apakah kita sungguh mempersiapkan generasi dengan fondasi yang kokoh? Atau justru sibuk dengan kebijakan tambal sulam yang jauh dari visi jangka panjang?

Tidak ada yang salah dengan program sosial yang bertujuan menyejahterakan masyarakat. Program makan bergizi, bantuan sosial, dan upaya pengentasan kemiskinan adalah kebutuhan nyata. Namun persoalannya bukan pada niat, melainkan pada skema dan prioritas.

Jika anggaran pendidikan—yang semestinya menjadi investasi masa depan—tergeser demi kebutuhan yang bersifat jangka pendek, maka kita sedang membayar mahal hari ini untuk masa depan yang lebih rapuh. Kesejahteraan memang penting, tetapi pendidikanlah yang membuat kesejahteraan itu berkelanjutan.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.