Tarwiyah dan Qurban: Menyembelih Kesombongan, Membersihkan Hati

ED
Rabu, 4 Juni 2025 | 08:28 WIB
Bagikan
Tarwiyah dan Qurban: Menyembelih Kesombongan, Membersihkan Hati

Oleh Gus Bashir

HARI-HARI awal Dzulhijjah menyimpan keutamaan yang luar biasa. Ia adalah hari-hari yang dicintai Allah SWT, bahkan amal di dalamnya lebih utama dari jihad di jalan-Nya (HR. Bukhari). Dua di antaranya adalah puasa Tarwiyah dan ibadah Qurban—dua amalan yang bukan hanya ritual, tapi jalan spiritual untuk menundukkan nafsu dan menyembelih penyakit hati yang sering tersembunyi: kesombongan, iri, dengki, dan munafik.

Puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah sejatinya adalah latihan merenung dan menyucikan niat. Kata Tarwiyah berasal dari akar kata rawwa-yarwi, yang berarti berpikir atau mempertimbangkan. Jemaah haji dahulu merenung sebelum berangkat ke Arafah. Kini, di tengah kehidupan yang penuh riya dan pamer pencapaian, puasa ini mengajarkan kita untuk merenung dalam diam: siapa sebenarnya yang kita cari dengan semua pencapaian itu?

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim). Puasa Tarwiyah adalah kesempatan untuk membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin—hasad, ujub, dan sum’ah. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada banyaknya followers atau popularitas, tetapi pada hati yang tulus hanya mengharap ridha Allah.

Begitu pula ibadah Qurban. Banyak dari kita mungkin menyembelih hewan terbaik, membagikan dokumentasi dengan caption yang indah, namun lupa bahwa Qurban sejati adalah menyembelih ego dan keangkuhan. Allah menegaskan dalam QS. Al-Hajj ayat 37: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”

Betapa sering Qurban dijadikan ajang pamer status sosial—siapa yang menyembelih sapi, siapa yang berkurban kambing, siapa yang tidak. Padahal, Qurban bukanlah kontes gengsi. Ia adalah simbol ketundukan, pengorbanan, dan pelepasan diri dari dunia yang membelenggu. Nabi Ibrahim AS bersedia menyembelih anaknya, Ismail AS, bukan untuk unjuk taqwa, tapi sebagai bentuk totalitas penghambaan.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.