VISI | Fitrah “Kesombongan Spiritual”
Editor
Desi Rossilawati
Rabu, 18 Maret 2026 | 07:37 WIB
Oleh Drajat
- Guru
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis Transformasi Indonesia
- Mindshaper Nusantara
- APKS PGRI Prov. Jabar
Kesombongan Spiritual
Namun perjalanan menuju fitrah tidak selalu bebas dari jebakan. Salah satu jebakan yang paling halus adalah kesombongan spiritual. Kadang-kadang seseorang yang mulai rajin beribadah merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Ia merasa lebih suci, lebih benar, bahkan lebih dekat dengan Tuhan. Padahal perasaan seperti itu justru dapat merusak keikhlasan. Kesombongan spiritual adalah bentuk kesombongan yang paling sulit disadari. Ia tidak selalu tampak dalam perilaku kasar, tetapi sering tersembunyi dalam hati yang merasa dirinya sudah cukup baik. Ramadan sebenarnya mengajarkan hal yang sebaliknya. Puasa bukan untuk menunjukkan siapa yang paling saleh. Puasa adalah latihan untuk menjadi manusia yang lebih rendah hati. Semakin seseorang mendekat kepada Tuhan, seharusnya ia semakin menyadari betapa kecil dirinya. Setelah sebulan penuh menjalani latihan spiritual, umat Islam akhirnya sampai pada hari yang sangat istimewa: Eidul Fitri. Hari itu sering disebut sebagai hari kemenangan. Namun kemenangan yang dimaksud bukan kemenangan atas orang lain. Ia adalah kemenangan atas diri sendiri. Kemenangan atas hawa nafsu. Kemenangan atas kesombongan. Kemenangan atas kebiasaan buruk yang selama ini membelenggu kehidupan kita. Eidul Fitri adalah simbol bahwa manusia memiliki kesempatan untuk memulai kembali. Ia seperti halaman baru dalam buku kehidupan. Namun seperti halaman baru dalam sebuah buku, isi dari halaman itu tetap bergantung pada bagaimana kita menulisnya. Dalam perjalanan hidup, terutama bagi mereka yang sering menyampaikan gagasan atau menulis pandangan, ada satu kenyataan yang tidak dapat dihindari. Tidak semua orang akan menyukai apa yang kita sampaikan. Ada yang setuju. Ada yang tersinggung. Ada yang marah. Bahkan tidak jarang kritik atau tulisan yang jujur dapat berubah menjadi semacam bom waktu yang memicu kemarahan orang lain. Hal seperti ini sering terjadi, terutama ketika kita berbicara tentang kejujuran, keadilan, atau tanggung jawab. Namun dalam kehidupan yang penuh dengan perbedaan pandangan, kita perlu belajar satu hal penting: tidak semua kebenaran akan diterima dengan mudah. Karena itu, cara terbaik adalah tetap menjaga niat. Jika sesuatu disampaikan dengan niat yang baik, dengan cara yang santun, dan dengan tujuan memperbaiki keadaan, maka biarlah waktu yang menjadi saksi. Pada akhirnya manusia perlu menyadari satu hal yang sangat sederhana. Tidak semua hal dalam hidup berada dalam kendali kita. Kita bisa berusaha melakukan yang terbaik. Kita bisa menyampaikan kebenaran dengan cara yang paling bijak. Kita bisa berusaha memperbaiki diri dengan sungguh-sungguh. Namun hasil akhirnya tetap berada di tangan Tuhan. Di sinilah makna pasrah dan ikhlas menjadi sangat penting. Pasrah bukan berarti menyerah tanpa usaha. Pasrah adalah kesadaran bahwa setelah semua ikhtiar dilakukan, kita menyerahkan hasilnya kepada pemilik kehidupan. Dalam sikap pasrah itulah terdapat keindahan. Karena manusia tidak lagi terbebani oleh keinginan untuk selalu terlihat benar di hadapan dunia. Tantangan terbesar sebenarnya bukanlah menjalani Ramadan. Tantangan terbesar adalah menjaga semangat Ramadan setelah bulan itu berakhir. Banyak orang mampu menjadi lebih baik selama Ramadan. Mereka lebih sabar, lebih rajin beribadah, dan lebih peduli kepada sesama. Namun setelah Ramadan berlalu, tidak sedikit yang kembali kepada kebiasaan lama. Padahal fitrah yang diperoleh selama Ramadan seharusnya menjadi bekal untuk menjalani kehidupan sepanjang tahun. Fitrah bukan sekadar momen satu hari. Ia adalah cara hidup. Cara hidup yang lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih sadar bahwa kehidupan ini hanyalah perjalanan sementara menuju perjumpaan dengan Tuhan. Pada akhirnya, perjalanan Ramadan mengajarkan satu pelajaran yang sangat mendasar. Bahwa manusia, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tetaplah seorang hamba. Hamba yang berusaha menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Hamba yang terus belajar memperbaiki diri. Hamba yang berharap dapat kembali kepada fitrah yang suci. Jika setelah Ramadan hati kita menjadi lebih lembut, pikiran kita menjadi lebih jernih, dan langkah hidup kita menjadi lebih berhati-hati, maka perjalanan bulan suci ini tidaklah sia-sia. Dan ketika hari kemenangan akhirnya tiba, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk bertanya apakah kita sudah benar-benar kembali kepada fitrah. Cukup dengan satu keyakinan sederhana: Bahwa selama kita terus berusaha memperbaiki diri, Tuhan tidak pernah menutup pintu bagi hamba-Nya yang ingin kembali.**Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!