Tarwiyah dan Qurban: Menyembelih Kesombongan, Membersihkan Hati
Jika Ibrahim diuji dengan anaknya, kita diuji dengan ego kita sendiri. Jika Ismail bersedia ditundukkan, maka kita pun harus belajar menundukkan nafsu dan hawa. Jika Qurban menjadi ibadah yang paling dicintai Allah pada hari-hari ini (HR. Tirmidzi), maka marilah kita sempurnakan ia dengan hati yang tunduk, bukan dada yang membusung.
Sebab dunia ini bukan untuk dipamerkan. Dunia ini adalah ladang ujian. Dan puasa Tarwiyah serta Qurban adalah dua jalan suci untuk mengingat bahwa hidup ini tentang ketundukan, bukan pengakuan. Tentang pelayanan, bukan penonjolan. Tentang hati yang lapang, bukan hati yang ingin menang sendiri.
Mari kita jadikan momen ini sebagai titik balik. Agar hati yang sebelumnya penuh iri, kini menjadi hati yang senang melihat orang lain bahagia. Agar hati yang dulu sibuk memandang diri sendiri, kini mulai sibuk melihat siapa yang bisa dibantu. Karena itulah makna sesungguhnya dari Qurban dan puasa: bukan hanya membakar lemak tubuh, tapi membakar karat hati.***
- Gus Basir Ketua LBM MWC NU Jatitujuh & Pimpinan Majelis Dzikir Sabilul Ghafilin, Sumur Wetan Cipaku, Jatitengah, Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!