Tarwiyah dan Qurban: Menyembelih Kesombongan, Membersihkan Hati
Oleh Gus Bashir
HARI-HARI awal Dzulhijjah menyimpan keutamaan yang luar biasa. Ia adalah hari-hari yang dicintai Allah SWT, bahkan amal di dalamnya lebih utama dari jihad di jalan-Nya (HR. Bukhari). Dua di antaranya adalah puasa Tarwiyah dan ibadah Qurban—dua amalan yang bukan hanya ritual, tapi jalan spiritual untuk menundukkan nafsu dan menyembelih penyakit hati yang sering tersembunyi: kesombongan, iri, dengki, dan munafik.
Puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah sejatinya adalah latihan merenung dan menyucikan niat. Kata Tarwiyah berasal dari akar kata rawwa-yarwi, yang berarti berpikir atau mempertimbangkan. Jemaah haji dahulu merenung sebelum berangkat ke Arafah. Kini, di tengah kehidupan yang penuh riya dan pamer pencapaian, puasa ini mengajarkan kita untuk merenung dalam diam: siapa sebenarnya yang kita cari dengan semua pencapaian itu?
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim). Puasa Tarwiyah adalah kesempatan untuk membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin—hasad, ujub, dan sum’ah. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada banyaknya followers atau popularitas, tetapi pada hati yang tulus hanya mengharap ridha Allah.
Begitu pula ibadah Qurban. Banyak dari kita mungkin menyembelih hewan terbaik, membagikan dokumentasi dengan caption yang indah, namun lupa bahwa Qurban sejati adalah menyembelih ego dan keangkuhan. Allah menegaskan dalam QS. Al-Hajj ayat 37: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
Betapa sering Qurban dijadikan ajang pamer status sosial—siapa yang menyembelih sapi, siapa yang berkurban kambing, siapa yang tidak. Padahal, Qurban bukanlah kontes gengsi. Ia adalah simbol ketundukan, pengorbanan, dan pelepasan diri dari dunia yang membelenggu. Nabi Ibrahim AS bersedia menyembelih anaknya, Ismail AS, bukan untuk unjuk taqwa, tapi sebagai bentuk totalitas penghambaan.
Penyakit hati seperti iri, dengki, dan hasad sering tumbuh subur saat kita lebih sibuk menilai amal orang lain daripada memperbaiki niat diri sendiri. Qurban dan puasa Tarwiyah adalah momen terbaik untuk membakar semua racun batin itu. Sebab, tidak akan masuk surga hati yang dipenuhi iri dan benci terhadap saudaranya sendiri (HR. Muslim).
Mari kita renungi: berapa banyak waktu kita habiskan membandingkan hidup dengan orang lain di media sosial? Berapa banyak bisikan hati yang iri melihat orang lain berkurban lebih besar? Atau bahkan menghakimi yang belum mampu? Di situlah letak pentingnya Qurban: menyembelih rasa ingin lebih dari orang lain, dan mulai melihat bahwa Allah hanya menilai ketulusan, bukan ukuran.
Puasa Tarwiyah pun bukan sekadar menahan lapar, tapi juga menyucikan diri dari sifat munafik—yang tampak saleh di luar, tapi keruh di dalam. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 2, bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Maka siapa yang ingin dibimbing oleh Allah, ia harus terlebih dahulu membersihkan hatinya dari kepalsuan.
Dalam dunia yang terus mendorong kita untuk tampil, Qurban dan puasa Tarwiyah justru mengajarkan kita untuk menepi. Menepi dari keramaian untuk menyepi dalam kontemplasi. Menepi dari pujian manusia agar bisa mendengar suara batin sendiri. Karena hanya dalam kesunyianlah kita bisa jujur kepada Allah dan kepada diri sendiri.
Maka, mari kita jadikan Qurban bukan hanya seremonial tahunan, tapi momentum membersihkan hati. Menyembelih rasa “aku lebih baik” yang halus menyelinap dalam amal. Menyembelih syahwat akan pujian, dan membagikan daging bukan hanya kepada fakir miskin, tapi juga kepada hati kita sendiri agar kenyang oleh keikhlasan.
Begitu pula puasa Tarwiyah: bukan soal menahan lapar, tapi menyegarkan akal dan hati agar mampu melihat dunia dengan jernih. Ia melatih kita agar tidak reaktif terhadap kehidupan, agar tidak mudah iri ketika melihat nikmat orang lain, dan agar bersabar ketika melihat diri belum seberhasil yang kita harapkan.
Jika Ibrahim diuji dengan anaknya, kita diuji dengan ego kita sendiri. Jika Ismail bersedia ditundukkan, maka kita pun harus belajar menundukkan nafsu dan hawa. Jika Qurban menjadi ibadah yang paling dicintai Allah pada hari-hari ini (HR. Tirmidzi), maka marilah kita sempurnakan ia dengan hati yang tunduk, bukan dada yang membusung.
Sebab dunia ini bukan untuk dipamerkan. Dunia ini adalah ladang ujian. Dan puasa Tarwiyah serta Qurban adalah dua jalan suci untuk mengingat bahwa hidup ini tentang ketundukan, bukan pengakuan. Tentang pelayanan, bukan penonjolan. Tentang hati yang lapang, bukan hati yang ingin menang sendiri.
Mari kita jadikan momen ini sebagai titik balik. Agar hati yang sebelumnya penuh iri, kini menjadi hati yang senang melihat orang lain bahagia. Agar hati yang dulu sibuk memandang diri sendiri, kini mulai sibuk melihat siapa yang bisa dibantu. Karena itulah makna sesungguhnya dari Qurban dan puasa: bukan hanya membakar lemak tubuh, tapi membakar karat hati.***
- Gus Basir Ketua LBM MWC NU Jatitujuh & Pimpinan Majelis Dzikir Sabilul Ghafilin, Sumur Wetan Cipaku, Jatitengah, Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!