Sustainability Shift Buka Peluang Baru di Lima Sektor Strategis Indonesia
“Seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap carbon performance, produk nikel dengan intensitas karbon yang lebih rendah berpotensi memiliki diferensiasi nilai di pasar global,” ujarnya.
Menurut Budiawansyah, pemanfaatan energi terbarukan, penguatan ketertelusuran, dan penerapan praktik pertambangan yang bertanggung jawab akan semakin penting untuk mempertahankan daya saing Indonesia.
Hal itu juga akan menentukan kemampuan produk Indonesia mempertahankan akses ke pasar global serta masuk dalam rantai pasok industri baterai.
Di sektor kelapa sawit, Kompartemen Hubungan Stakeholders Bidang Sustainability Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI, Agam Fatchurrochman, menilai tantangan industri sawit juga telah mengalami perubahan mendasar.
“Tantangan keberlanjutan kelapa sawit ke depan bukan lagi soal ekspansi lahan, melainkan bagaimana produktivitas ditingkatkan secara bertanggung jawab,” kata Agam.
Menurutnya, produsen sawit kini semakin bergerak ke arah replanting, intensifikasi, dan penguatan ketertelusuran digital untuk memenuhi standar seperti RSPO dan European Union Deforestation Regulation atau EUDR.
Pergeseran tersebut dinilai penting bukan hanya untuk menjawab tuntutan keberlanjutan, tetapi juga mempertahankan akses produk Indonesia ke pasar internasional.
Bagi dunia usaha, keberlanjutan kini semakin sulit dipisahkan dari strategi pertumbuhan. Infrastruktur energi, pusat data, rantai pasok pangan, manufaktur farmasi, hingga industri mineral sama-sama menghadapi tekanan untuk menjadi lebih efisien, tangguh, dan rendah karbon.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!