Sustainability Shift Buka Peluang Baru di Lima Sektor Strategis Indonesia 20 Aug 2026 Kertajati Disiapkan Jadi MRO Pesawat Tempur TNI 20 Aug 2026 Bandung Creative Hub, Ruang Gratis Lahirkan Talenta Kreatif 20 Aug 2026 Peraturan Dana Jurnalisme Didorong Segera Disahkan Dewan Pers 20 Aug 2026 Cetak Generasi Petani Masa Depan, University of Melbourne Gandeng IPB dan UGM 20 Aug 2026 tridorian Buka Experience Center Gemini Enterprise di Singapura 20 Aug 2026 Garam Himalaya vs Laut, Mana Lebih Sehat? 20 Aug 2026 Transjakarta Alihkan Koridor 13 Imbas Kendala Teknis di Petukangan 20 Aug 2026 Review Harusnya Horor, Reza Arap Bawa AAA Clan ke Bioskop 20 Aug 2026 Indonesia-Kamboja Bentuk 'Indonesia Desk', Perangi Jaringan Scam Lintas Negara 20 Aug 2026 Sustainability Shift Buka Peluang Baru di Lima Sektor Strategis Indonesia 20 Aug 2026 Kertajati Disiapkan Jadi MRO Pesawat Tempur TNI 20 Aug 2026 Bandung Creative Hub, Ruang Gratis Lahirkan Talenta Kreatif 20 Aug 2026 Peraturan Dana Jurnalisme Didorong Segera Disahkan Dewan Pers 20 Aug 2026 Cetak Generasi Petani Masa Depan, University of Melbourne Gandeng IPB dan UGM 20 Aug 2026 tridorian Buka Experience Center Gemini Enterprise di Singapura 20 Aug 2026 Garam Himalaya vs Laut, Mana Lebih Sehat? 20 Aug 2026 Transjakarta Alihkan Koridor 13 Imbas Kendala Teknis di Petukangan 20 Aug 2026 Review Harusnya Horor, Reza Arap Bawa AAA Clan ke Bioskop 20 Aug 2026 Indonesia-Kamboja Bentuk 'Indonesia Desk', Perangi Jaringan Scam Lintas Negara 20 Aug 2026

Sustainability Shift Buka Peluang Baru di Lima Sektor Strategis Indonesia

ED
PN
Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:13 WIB
Bagikan
Sustainability Shift Buka Peluang Baru di Lima Sektor Strategis Indonesia

VISI.NEWS – Lanskap keberlanjutan Indonesia tengah mengalami perubahan besar. Jika sebelumnya agenda keberlanjutan kerap dipandang sebagai kewajiban kepatuhan terhadap regulasi dan standar lingkungan, kini isu tersebut semakin bergeser menjadi bagian dari strategi bisnis untuk memperkuat ketahanan ekonomi, menjaga daya saing, dan menciptakan nilai jangka panjang.

Pergeseran tersebut menjadi sorotan dalam riset Bank DBS Indonesia bertajuk The Sustainability Shift: Indonesia's Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks. Riset ini memetakan perubahan lanskap keberlanjutan pada lima sektor strategis, yakni energi, energi terbarukan dan infrastruktur; teknologi, media dan telekomunikasi; pangan dan agribisnis; kesehatan dan farmasi; serta logam dan pertambangan.

Hasil riset menunjukkan bahwa tidak ada satu formula yang dapat diterapkan secara seragam untuk seluruh sektor. Setiap industri memang menghadapi tekanan untuk bergerak dari pendekatan yang berorientasi pada kepatuhan menuju keberlanjutan sebagai strategi bisnis inti, namun pendorong perubahan, risiko, tantangan, dan kebutuhan investasinya berbeda-beda.

Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin, mengatakan perubahan lanskap bisnis membuat perusahaan membutuhkan perspektif yang lebih jelas dalam menentukan prioritas jangka panjang.

“Di tengah perubahan lanskap bisnis yang semakin kompleks, perusahaan membutuhkan perspektif yang jelas untuk menentukan prioritas dan mengambil keputusan jangka panjang. Keberlanjutan kini semakin berkaitan erat dengan ketahanan usaha, daya saing, dan penciptaan nilai,” kata Anthonius.

Menurutnya, transformasi menuju bisnis yang lebih berkelanjutan tidak memiliki jalur yang sama di setiap sektor. Karena itu, pemahaman terhadap karakteristik industri menjadi penting agar perusahaan dapat mengidentifikasi peluang sekaligus mengantisipasi risiko yang muncul.

“Melalui riset ini, Bank DBS Indonesia berupaya memberikan insights yang lebih terarah mengenai perubahan yang terjadi di berbagai sektor strategis, sekaligus peluang dan tantangan yang perlu diantisipasi dunia usaha,” ujarnya.

Lima sektor, lima jalur transformasi

Pada sektor energi, energi terbarukan, dan infrastruktur, pergeseran utama terjadi dari ketergantungan terhadap bahan bakar fosil menuju elektrifikasi yang semakin luas.

Kebutuhan listrik diperkirakan meningkat pesat, didorong pertumbuhan kendaraan listrik, hilirisasi mineral, perkembangan kecerdasan buatan atau AI, pembangunan pusat data, hingga elektrifikasi rumah tangga. Konsumsi listrik Indonesia diproyeksikan meningkat dari sekitar 300 terawatt hour atau TWh pada 2024 menjadi lebih dari 1.800 TWh pada 2060.

Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi terbarukan sekitar 3.687 gigawatt atau GW. Namun, pemanfaatannya masih berada di bawah 0,5 persen. Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan infrastruktur transmisi serta tingkat kelayakan proyek atau bankability.

Kondisi tersebut sekaligus membuka peluang investasi baru dalam pengembangan energi surya, battery energy storage system atau BESS, modernisasi jaringan listrik, hingga elektrifikasi industri.

Pergeseran berbeda terjadi pada sektor teknologi, media, dan telekomunikasi. Pertumbuhan telekomunikasi berbasis konektivitas mulai melambat, dari sekitar 9,69 persen pada 2015 menjadi 7,14 persen pada kuartal pertama 2026. Namun, nilai ekonomi digital terus berkembang.

Nilai gross merchandise value atau GMV ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai sekitar USD99 miliar pada 2025. Di sisi lain, sekitar 79 persen pengguna Indonesia telah mengenal AI.

Perubahan ini mendorong kebutuhan baru terhadap cloud, keamanan siber, dan infrastruktur pusat data. Di tengah tingginya kebutuhan komputasi, green data center dipandang sebagai salah satu peluang investasi besar berikutnya bagi industri digital Indonesia.

Di sektor pangan dan agribisnis, transformasi berlangsung dari pola pertumbuhan yang bertumpu pada ekspansi produksi menuju peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan.

Indonesia saat ini memproduksi sekitar 60 persen pasokan kelapa sawit dunia. Namun, pertumbuhan industri pada masa depan dinilai tidak lagi dapat hanya mengandalkan pembukaan lahan baru. Peningkatan produktivitas, penanaman kembali atau replanting, serta penerapan standar keberlanjutan dan ketertelusuran menjadi semakin penting.

Standar seperti RSPO dan NDPE turut mendorong perusahaan memperkuat praktik keberlanjutan agar dapat mempertahankan akses ke pasar global.

Sektor perunggasan juga memiliki peluang baru melalui program Makan Bergizi Gratis atau MBG dan ekspansi breeding stock yang meningkatkan permintaan di sepanjang rantai nilai. Peluang investasi meluas ke teknologi pertanian atau agritech, sistem rantai dingin atau cold chain, teknologi traceability, hingga pengembangan pupuk organik.

Sementara itu, sektor kesehatan dan farmasi menghadapi tantangan ketahanan rantai pasok. Sekitar 90 persen bahan baku farmasi aktif atau active pharmaceutical ingredients/API Indonesia masih bergantung pada impor.

Sumber bahan baku tersebut juga cukup terkonsentrasi, dengan China menyumbang sekitar 42 persen dan India sekitar 11 persen.

Pada sisi akses layanan kesehatan, BPJS Kesehatan telah mencakup sekitar 98,6 persen populasi. Namun, tantangan tetap muncul dalam akses terhadap obat inovatif dan ketersediaan tenaga medis spesialis.

Riset tersebut mencatat hanya sekitar 2 persen obat inovatif global yang tercakup dalam Formularium Nasional atau FORNAS. Rasio dokter spesialis Indonesia juga masih sekitar 0,16 per 1.000 penduduk, jauh di bawah kisaran rata-rata negara OECD yang berada pada rentang 1,5 hingga 3 dokter spesialis per 1.000 penduduk.

Peluang pengembangan sektor kesehatan pun diarahkan pada lokalisasi produksi API secara selektif, penguatan kapasitas manufaktur, diversifikasi pemasok, serta pengembangan skema pembiayaan tambahan seperti copayment dan KAPJ.

Adapun pada sektor logam dan pertambangan, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar meningkatkan skala produksi, tetapi membangun daya saing yang lebih berkelanjutan.

Indonesia menguasai sekitar 60 persen produksi nikel dunia dan pada 2025 menempati posisi ke-13 sebagai produsen baja terbesar dunia. Namun, pertumbuhan industri juga menghadapi persoalan karbon yang semakin menjadi perhatian pasar global.

Sekitar 97 persen listrik yang digunakan untuk pemrosesan nikel masih berasal dari captive coal power. Ketergantungan tersebut berpotensi menjadi tantangan karena standar internasional terhadap emisi dan jejak karbon semakin ketat.

Peluang penciptaan nilai berikutnya diproyeksikan bergeser ke sektor hilir, mulai dari komponen baterai, BESS, daur ulang, hingga produk logam rendah karbon. Perubahan tersebut juga dipengaruhi regulasi global seperti European Union Carbon Border Adjustment Mechanism atau EU CBAM dan Battery Regulation.

Pembiayaan tidak lagi sekadar menyediakan modal

Riset Bank DBS Indonesia juga menegaskan bahwa besarnya peluang keberlanjutan tidak otomatis membuat sebuah proyek mudah memperoleh pembiayaan.

Kesiapan proyek, profil risiko, kepastian arus kas, serta kompleksitas struktur pembiayaan tetap menjadi faktor penting. Dalam konteks ini, peran perbankan dinilai perlu berkembang, tidak hanya sebagai penyedia modal tetapi juga sebagai mitra yang membantu perusahaan meningkatkan kesiapan proyek dan menentukan struktur pembiayaan.

Bank DBS Indonesia menyediakan sejumlah solusi, mulai dari sustainability financing, sustainability-linked financing, structured dan blended finance, business lending, trade finance, hingga pembiayaan supply chain. Pendekatan tersebut dilengkapi layanan advisory untuk membantu perusahaan menjembatani kebutuhan keberlanjutan dengan kelayakan komersial.

Di sektor energi dan energi terbarukan, Bank DBS Indonesia telah mendukung pembiayaan proyek energi bersih, termasuk panas bumi, serta ekosistem elektrifikasi seperti kendaraan listrik roda dua dan infrastruktur penukaran baterai.

Pada sektor teknologi, media, dan telekomunikasi, Bank DBS Indonesia mendukung pengembangan pusat data hijau. Salah satunya melalui peran sebagai Joint Mandated Lead Arranger dan Green Loan Coordinator dalam fasilitas green loan senilai Rp1,7 triliun untuk Princeton Digital Group atau PDG.

Pembiayaan tersebut mendukung pembangunan pusat data hyperscale berbasis energi terbarukan yang menjadi pusat data pertama di Indonesia dengan sertifikasi BCA–IMDA Green Mark Platinum.

Di sektor pangan dan agribisnis, dukungan diberikan kepada rantai pasok kopi berkelanjutan melalui fasilitas pembiayaan pra-ekspor senilai USD20 juta kepada Sucden Coffee Indonesia. Bank DBS Indonesia juga menjalankan skema blended finance bersama DBS Foundation untuk mendukung Adena Coffee yang telah menjangkau lebih dari 2.000 petani kecil.

Sementara pada sektor logam dan pertambangan, Bank DBS Indonesia terlibat dalam transaksi sustainability-linked loan kepada Vale Indonesia. Dalam perannya sebagai facility agent, Bank DBS Indonesia mendukung fasilitas yang dikaitkan dengan target penurunan intensitas emisi karbon dan peningkatan penggunaan energi terbarukan.

Di sektor kesehatan, DBS Foundation mendukung DoctorTool, startup healthtech yang mengembangkan rekam medis digital terintegrasi dengan BPJS dan SATUSEHAT. Inisiatif tersebut diarahkan untuk membantu memperluas akses layanan kesehatan primer di wilayah underserved.

Bank DBS Indonesia juga memiliki pengalaman dalam pendampingan transisi rendah karbon lintas sektor. Salah satunya melalui kolaborasi dengan PT TBS Energi Utama Tbk dalam penyusunan Climate Transition Plan menuju target netralitas karbon pada 2030.

Strategi tersebut mencakup realokasi modal dari portofolio lama menuju pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan mobilitas listrik.

AI, nikel, dan sawit hadapi tantangan baru

Pergeseran menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan turut melahirkan peluang besar sekaligus tantangan yang berbeda di setiap sektor.

Chairman Indonesia Data Center Provider Organization atau IDPRO, Hendra Suryakusuma, menilai perkembangan AI telah menjadikan pusat data sebagai mesin pertumbuhan baru dalam ekosistem digital Indonesia.

“Momentum pertumbuhan AI membuat pusat data menjadi growth engine baru bagi ekosistem digital Indonesia. Namun, ketersediaan energi terbarukan dan kepastian kebijakan ke depan akan sama pentingnya dengan besarnya potensi pasar dalam menentukan keputusan investasi,” kata Hendra.

Pertumbuhan pusat data dan teknologi AI membutuhkan kapasitas energi yang semakin besar. Karena itu, pengembangan infrastruktur digital akan semakin berkaitan dengan ketersediaan sumber listrik yang andal dan berkelanjutan.

Pada sektor logam dan pertambangan, Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Tbk, Budiawansyah, menilai posisi Indonesia yang kuat sebagai produsen nikel perlu disertai peningkatan kinerja karbon dan praktik pertambangan yang bertanggung jawab.

“Seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap carbon performance, produk nikel dengan intensitas karbon yang lebih rendah berpotensi memiliki diferensiasi nilai di pasar global,” ujarnya.

Menurut Budiawansyah, pemanfaatan energi terbarukan, penguatan ketertelusuran, dan penerapan praktik pertambangan yang bertanggung jawab akan semakin penting untuk mempertahankan daya saing Indonesia.

Hal itu juga akan menentukan kemampuan produk Indonesia mempertahankan akses ke pasar global serta masuk dalam rantai pasok industri baterai.

Di sektor kelapa sawit, Kompartemen Hubungan Stakeholders Bidang Sustainability Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI, Agam Fatchurrochman, menilai tantangan industri sawit juga telah mengalami perubahan mendasar.

“Tantangan keberlanjutan kelapa sawit ke depan bukan lagi soal ekspansi lahan, melainkan bagaimana produktivitas ditingkatkan secara bertanggung jawab,” kata Agam.

Menurutnya, produsen sawit kini semakin bergerak ke arah replanting, intensifikasi, dan penguatan ketertelusuran digital untuk memenuhi standar seperti RSPO dan European Union Deforestation Regulation atau EUDR.

Pergeseran tersebut dinilai penting bukan hanya untuk menjawab tuntutan keberlanjutan, tetapi juga mempertahankan akses produk Indonesia ke pasar internasional.

Bagi dunia usaha, keberlanjutan kini semakin sulit dipisahkan dari strategi pertumbuhan. Infrastruktur energi, pusat data, rantai pasok pangan, manufaktur farmasi, hingga industri mineral sama-sama menghadapi tekanan untuk menjadi lebih efisien, tangguh, dan rendah karbon.

Namun, jalur transformasinya tidak akan sama.

Sektor energi membutuhkan infrastruktur dan proyek yang layak dibiayai. Industri digital membutuhkan energi bersih dan kepastian kebijakan. Pangan dan agribisnis dituntut meningkatkan produktivitas tanpa memperluas tekanan terhadap lingkungan. Sektor kesehatan perlu memperkuat ketahanan rantai pasok, sementara industri logam harus menyeimbangkan pertumbuhan hilirisasi dengan tuntutan penurunan emisi.

Melalui perubahan tersebut, keberlanjutan tidak lagi hanya menjadi agenda tambahan dalam laporan perusahaan. Bagi lima sektor strategis Indonesia, keberlanjutan semakin menjadi bagian dari keputusan bisnis, strategi investasi, dan pertarungan baru untuk mempertahankan daya saing dalam ekonomi global.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.