Sustainability Shift Buka Peluang Baru di Lima Sektor Strategis Indonesia
Lima sektor, lima jalur transformasi
Pada sektor energi, energi terbarukan, dan infrastruktur, pergeseran utama terjadi dari ketergantungan terhadap bahan bakar fosil menuju elektrifikasi yang semakin luas.
Kebutuhan listrik diperkirakan meningkat pesat, didorong pertumbuhan kendaraan listrik, hilirisasi mineral, perkembangan kecerdasan buatan atau AI, pembangunan pusat data, hingga elektrifikasi rumah tangga. Konsumsi listrik Indonesia diproyeksikan meningkat dari sekitar 300 terawatt hour atau TWh pada 2024 menjadi lebih dari 1.800 TWh pada 2060.
Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi terbarukan sekitar 3.687 gigawatt atau GW. Namun, pemanfaatannya masih berada di bawah 0,5 persen. Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan infrastruktur transmisi serta tingkat kelayakan proyek atau bankability.
Kondisi tersebut sekaligus membuka peluang investasi baru dalam pengembangan energi surya, battery energy storage system atau BESS, modernisasi jaringan listrik, hingga elektrifikasi industri.
Pergeseran berbeda terjadi pada sektor teknologi, media, dan telekomunikasi. Pertumbuhan telekomunikasi berbasis konektivitas mulai melambat, dari sekitar 9,69 persen pada 2015 menjadi 7,14 persen pada kuartal pertama 2026. Namun, nilai ekonomi digital terus berkembang.
Nilai gross merchandise value atau GMV ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai sekitar USD99 miliar pada 2025. Di sisi lain, sekitar 79 persen pengguna Indonesia telah mengenal AI.
Perubahan ini mendorong kebutuhan baru terhadap cloud, keamanan siber, dan infrastruktur pusat data. Di tengah tingginya kebutuhan komputasi, green data center dipandang sebagai salah satu peluang investasi besar berikutnya bagi industri digital Indonesia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!