Sustainability Shift Buka Peluang Baru di Lima Sektor Strategis Indonesia
Peluang pengembangan sektor kesehatan pun diarahkan pada lokalisasi produksi API secara selektif, penguatan kapasitas manufaktur, diversifikasi pemasok, serta pengembangan skema pembiayaan tambahan seperti copayment dan KAPJ.
Adapun pada sektor logam dan pertambangan, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar meningkatkan skala produksi, tetapi membangun daya saing yang lebih berkelanjutan.
Indonesia menguasai sekitar 60 persen produksi nikel dunia dan pada 2025 menempati posisi ke-13 sebagai produsen baja terbesar dunia. Namun, pertumbuhan industri juga menghadapi persoalan karbon yang semakin menjadi perhatian pasar global.
Sekitar 97 persen listrik yang digunakan untuk pemrosesan nikel masih berasal dari captive coal power. Ketergantungan tersebut berpotensi menjadi tantangan karena standar internasional terhadap emisi dan jejak karbon semakin ketat.
Peluang penciptaan nilai berikutnya diproyeksikan bergeser ke sektor hilir, mulai dari komponen baterai, BESS, daur ulang, hingga produk logam rendah karbon. Perubahan tersebut juga dipengaruhi regulasi global seperti European Union Carbon Border Adjustment Mechanism atau EU CBAM dan Battery Regulation.
Pembiayaan tidak lagi sekadar menyediakan modal
Riset Bank DBS Indonesia juga menegaskan bahwa besarnya peluang keberlanjutan tidak otomatis membuat sebuah proyek mudah memperoleh pembiayaan.
Kesiapan proyek, profil risiko, kepastian arus kas, serta kompleksitas struktur pembiayaan tetap menjadi faktor penting. Dalam konteks ini, peran perbankan dinilai perlu berkembang, tidak hanya sebagai penyedia modal tetapi juga sebagai mitra yang membantu perusahaan meningkatkan kesiapan proyek dan menentukan struktur pembiayaan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!