SOSOK | Taryan Setiawan, S.H., M.H. — Loyalis dan Bersahaja
Loyalitas yang Menyala Tenang
Taryan bukan tipe pemimpin yang berteriak. Ia memimpin dengan keteladanan. Dalam rapat, ia lebih banyak mendengar, lalu menengahi dengan tenang. Di kantor, ia dikenal tegas tapi adil. Dan di antara teman-teman, ia jadi sosok yang menenangkan.
Loyalitasnya bukan hanya pada almamater, tetapi juga pada nilai-nilai yang ia yakini: kejujuran, tanggung jawab, dan kerja keras. Ia tidak mencari sorotan, tapi justru cahayanya muncul dari ketulusan. “Loyalitas itu bukan soal siapa yang dilayani, tapi soal komitmen pada apa yang kita cintai,” katanya suatu kali, dalam nada yang reflektif.
Menapaki Fase Baru, dengan Langkah Lama
Menjelang mutasi ke Tangerang, Taryan mengaku tak punya banyak harapan selain bisa terus bekerja dengan baik. Ia tahu, dunia kehakiman akan selalu penuh tantangan. Tapi ia juga tahu, selama niatnya lurus, semuanya bisa dijalani.
“Setiap tempat punya cerita, setiap putusan punya tanggung jawab. Saya hanya ingin tetap jadi diri saya sendiri,” ujarnya dengan senyum khasnya.
Dalam banyak hal, Taryan adalah simbol dari sesuatu yang mulai langka: kesetiaan tanpa pamrih. Ia sederhana, tapi berwibawa. Ia tidak mengejar tepuk tangan, tapi meninggalkan keteladanan.
Dan di tengah riuhnya persiapan reuni, di antara tumpukan berkas sidang dan rapat panitia, Taryan tetap seperti dulu — tenang, loyal, bersahaja.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!