SOSOK | Taryan Setiawan, S.H., M.H. — Loyalis dan Bersahaja

ED
Senin, 27 Oktober 2025 | 15:18 WIB
Bagikan
SOSOK | Taryan Setiawan, S.H., M.H. — Loyalis dan Bersahaja

VISI.NEWS | CIMAHI - Di antara keramaian kantor Pengadilan Negeri Kota Bandung (PN Bandung), sosok Taryan Setiawan selalu mudah dikenali — bukan karena penampilannya yang mencolok, tetapi justru karena kesederhanaannya. Seragam dinasnya selalu rapi, senyumnya ringan, tutur katanya lembut, tapi tegas. Ia bukan tipe yang banyak bicara, namun ketika berbicara, setiap kalimatnya punya bobot.

Bagi rekan-rekannya di pengadilan, Taryan adalah contoh klasik seorang abdi negara yang memandang tugas bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai pengabdian hidup. Lebih separuh usianya ia habiskan di lingkungan peradilan, meniti jalan panjang yang sunyi tapi penuh makna: jalan menegakkan keadilan.

Akar Kesederhanaan

Kesederhanaan itu tumbuh dari akar yang dalam. Ia lahir dan besar di Ciranjang, Cianjur — sebuah daerah yang hangat dengan nilai kekeluargaan. Anak dari keluarga biasa, ia belajar tentang arti kerja keras sejak kecil. Dari SDN 1 Ciranjang, lalu SMPN Ciranjang, hingga akhirnya masuk SMAN Cimindi di Bandung, Taryan kecil dikenal pendiam tapi tekun.

“Dari dulu dia nggak pernah berubah. Kalem, sopan, tapi kalau sudah berkomitmen, dia pasti jalan terus,” kata salah satu teman seangkatannya, usai acara di Cimahi, Minggu (26/10/2025), mengenang.

Setelah lulus SMA tahun 1983, Taryan melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, jurusan Perdata. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Ia terpesona oleh gagasan tentang keadilan dan ingin terlibat langsung dalam menegakkannya. “Saya melihat hukum bukan sekadar aturan, tapi cara menjaga keseimbangan hidup,” tuturnya suatu kali.

Meniti Jalan Sunyi di Dunia Peradilan

Tahun 1989, Taryan memulai kariernya sebagai pengacara praktek di Jawa Barat. Namun, empat tahun kemudian, panggilan nuraninya membawanya ke dunia kehakiman. Ia diterima sebagai Calon Hakim di Pengadilan Negeri Bale Bandung (PNBB). Dari sanalah perjalanan panjangnya dimulai.

Satu per satu daerah ia singgahi. Enrekang (Sulawesi Selatan), Trenggalek (Jawa Timur), Banjarnegara (Jawa Tengah), Pangkal Pinang (Bangka Belitung), hingga Sekayu (Sumatera Selatan), tempat ia dipercaya menjadi Ketua Pengadilan Negeri. Setiap tempat meninggalkan jejak cerita — tentang sidang-sidang panjang, tentang pencarian keadilan, dan tentang pertemuan dengan banyak wajah manusia yang berbeda.

“Menjadi hakim itu bukan soal siapa benar dan salah, tapi bagaimana menimbang dengan hati yang bersih,” katanya suatu sore. Pandangannya menembus jendela, seakan ia tengah menimbang sesuatu jauh di dalam dirinya.

Selepas memimpin PN Sekayu dan PN Subang, ia sempat bertugas di PN Jakarta Pusat, lalu kembali ke tanah kelahirannya sebagai Hakim Utama di PN Bandung. Kini, di usia yang matang dan dengan pangkat IV/d Pembina Utama Madya, ia tengah bersiap menjalani penugasan baru di Pengadilan Negeri Tangerang.

Antara Sidang dan Silaturahmi

Meski disibukkan dengan tugas-tugas peradilan yang padat, Taryan tak pernah jauh dari dunia lamanya: dunia pertemanan, persaudaraan, dan loyalitas. Ia dikenal di antara teman-teman SMA-nya sebagai sosok yang selalu hadir — dalam suka maupun duka. Tak heran bila ketika para alumni SMAN Cimindi-13 ngumpul di Ikatan Alumni Angkatan 1983 (IKA ’83), nama Taryan muncul bulat sebagai ketua.

Baginya, organisasi alumni bukan sekadar tempat nostalgia, tetapi sarana untuk menjaga tali silaturahmi dan berbagi manfaat. “Kalau bukan kita yang rawat, siapa lagi? Ini rumah kita bersama,” katanya pelan namun tegas.

Kini, ia tengah menyiapkan satu hajat besar: Reuni Akbar SMAN Cimindi-13 tahun 2025, yang akan digelar di Pusdikjas Cimahi pada 16 November 2025. Acara itu akan dihadiri sekitar 3.000 alumni, termasuk nama-nama besar seperti Panglima TNI Jenderal Agus Subianto, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana, serta sejumlah perwira tinggi TNI dan Polri.

Kadang waktu petang selepas sidang, ia masih menyempatkan waktu untuk memimpin rapat panitia — kadang daring, kadang di Kota Bandung atau di Cimahi. “Capek sih pasti, tapi semangat teman-teman itu menular. Ini acara kebersamaan,” ujarnya sambil tersenyum.

Loyalitas yang Menyala Tenang

Taryan bukan tipe pemimpin yang berteriak. Ia memimpin dengan keteladanan. Dalam rapat, ia lebih banyak mendengar, lalu menengahi dengan tenang. Di kantor, ia dikenal tegas tapi adil. Dan di antara teman-teman, ia jadi sosok yang menenangkan.

Loyalitasnya bukan hanya pada almamater, tetapi juga pada nilai-nilai yang ia yakini: kejujuran, tanggung jawab, dan kerja keras. Ia tidak mencari sorotan, tapi justru cahayanya muncul dari ketulusan. “Loyalitas itu bukan soal siapa yang dilayani, tapi soal komitmen pada apa yang kita cintai,” katanya suatu kali, dalam nada yang reflektif.

Menapaki Fase Baru, dengan Langkah Lama

Menjelang mutasi ke Tangerang, Taryan mengaku tak punya banyak harapan selain bisa terus bekerja dengan baik. Ia tahu, dunia kehakiman akan selalu penuh tantangan. Tapi ia juga tahu, selama niatnya lurus, semuanya bisa dijalani.

“Setiap tempat punya cerita, setiap putusan punya tanggung jawab. Saya hanya ingin tetap jadi diri saya sendiri,” ujarnya dengan senyum khasnya.

Dalam banyak hal, Taryan adalah simbol dari sesuatu yang mulai langka: kesetiaan tanpa pamrih. Ia sederhana, tapi berwibawa. Ia tidak mengejar tepuk tangan, tapi meninggalkan keteladanan.

Dan di tengah riuhnya persiapan reuni, di antara tumpukan berkas sidang dan rapat panitia, Taryan tetap seperti dulu — tenang, loyal, bersahaja.

@uli

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.