Bangli Jalan Dakota Ditertibkan, Warga Minta Trotoar Kembali 15 Sep 2026 Asap Kebakaran Lahan Ciumbuleuit Ganggu Kesehatan 19 Warga 15 Sep 2026 Lindungi Pelapor Insiden Siber, Sarifah Ainun Dorong Adanya Ketentuan Safe Harbor dalam RUU KKS 15 Sep 2026 Konflik Agraria Tak Kunjung Usai, Adian Sebut Negara Ikut Tanggung Jawab 15 Sep 2026 143 Ribu Keluarga Bandung Dapat Bantuan 4.290 Ton Beras 15 Sep 2026 Super Air Jet Buka Rute Bandung-Medan dan Bali 15 Sep 2026 Nama Nusron Wahid Muncul di OTT KPK, Ini Faktanya 15 Sep 2026 KPK Serahkan Aset Rampasan Korupsi Rp15,68 Miliar ke Tiga Kementerian 15 Sep 2026 Purbaya Ungkap Alasan Dicopot gegara Perombakan Pejabat Kemenkeu 15 Sep 2026 PESUT Kaltim Desak Kejagung Audit Tambang di Sekitar Tahura Bukit Soeharto 15 Sep 2026 Bangli Jalan Dakota Ditertibkan, Warga Minta Trotoar Kembali 15 Sep 2026 Asap Kebakaran Lahan Ciumbuleuit Ganggu Kesehatan 19 Warga 15 Sep 2026 Lindungi Pelapor Insiden Siber, Sarifah Ainun Dorong Adanya Ketentuan Safe Harbor dalam RUU KKS 15 Sep 2026 Konflik Agraria Tak Kunjung Usai, Adian Sebut Negara Ikut Tanggung Jawab 15 Sep 2026 143 Ribu Keluarga Bandung Dapat Bantuan 4.290 Ton Beras 15 Sep 2026 Super Air Jet Buka Rute Bandung-Medan dan Bali 15 Sep 2026 Nama Nusron Wahid Muncul di OTT KPK, Ini Faktanya 15 Sep 2026 KPK Serahkan Aset Rampasan Korupsi Rp15,68 Miliar ke Tiga Kementerian 15 Sep 2026 Purbaya Ungkap Alasan Dicopot gegara Perombakan Pejabat Kemenkeu 15 Sep 2026 PESUT Kaltim Desak Kejagung Audit Tambang di Sekitar Tahura Bukit Soeharto 15 Sep 2026

Soroti Mahalanya SPI Jalur Mandiri PTN, Habib Syarief: Jangan Ada Lagi Jalur Mandiri Tambahan

Desi Rossilawati
PN
Rabu, 3 Juni 2026 | 13:19 WIB
Bagikan
Soroti Mahalanya SPI Jalur Mandiri PTN, Habib Syarief: Jangan Ada Lagi Jalur Mandiri Tambahan

Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKB, Habib Syarief Muhammad./visi.news/ist.

VISI.NEWS | JAKARTA – Anggota Komisi X DPR Habib Syarief Muhammad, menyoroti tingginya Uang Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) pada jalur mandiri seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN).

Ia juga meminta pemerintah memastikan tidak ada lagi istilah jalur mandiri tambahan dalam Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).

Habib Syarief mengapresiasi kebijakan pemerintah yang membatasi daya tampung PTN melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).

“Secara konseptual ini sangat indah, sangat baik dan positif. Namun dalam tataran implementasi perlu mendapatkan pengawalan yang lebih jauh,” ujar legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Barat I tersebut, Selasa (2/6/2026).

Menurutnya, pembatasan daya tampung PTN merupakan langkah yang tepat untuk menjaga ekosistem pendidikan tinggi yang lebih berkeadilan antara PTN dan perguruan tinggi swasta (PTS).

Ia menilai sudah saatnya pemerintah memberikan ruang yang lebih luas bagi PTS untuk berkembang.

“Jangan ada lagi adagium di kalangan PTS bahwa pemerintah membunuh secara pelan-pelan PTS. Itu kata-kata yang apatis dan sering kita dengar,” kata Habib Syarief.

Meski demikian, Habib menilai masih terdapat persoalan yang perlu mendapat perhatian serius, yakni pelaksanaan seleksi jalur mandiri. Ia meminta pemerintah memberikan kepastian bahwa tidak akan ada lagi penambahan kuota melalui jalur mandiri tambahan.

“Jadi, yang lain sudah dibatasi, tapi jalur mandiri masih ada embel-embel tambahan. Pemerintah harus memberikan kepastian tidak adanya istilah mandiri tambahan,” tegasnya.

Habib menilai jalur mandiri selama ini identik dengan kesan komersialisasi pendidikan karena adanya kewajiban pembayaran uang pangkal atau SPI dengan nominal yang sangat besar.

Ia mencontohkan sejumlah PTN di Bandung yang mematok uang sumbangan hingga Rp1 miliar bahkan Rp1,5 miliar untuk program studi tertentu.

Kondisi tersebut, lanjutnya, berpotensi menimbulkan persepsi bahwa akses masuk PTN lebih mudah bagi kalangan mampu secara ekonomi dibandingkan mahasiswa berprestasi yang memiliki keterbatasan finansial.

“Hal ini memicu persepsi bahwa PTN hanya bisa diakses oleh kelompok yang berkecukupan. Sementara mahasiswa yang cerdas, tapi karena kemampuan ekonomi rendah, tidak bisa memanfaatkannya,” ujarnya.

Selain itu, anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI tersebut juga mengkritik minimnya transparansi dalam proses seleksi jalur mandiri. Berbeda dengan jalur prestasi dan ujian tulis yang dinilai lebih terbuka, jalur mandiri disebut masih sulit diawasi oleh publik.

Masyarakat sulit memverifikasi apakah mahasiswa diterima karena nilai tesnya atau karena kesanggupan membayar uang,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Habib Syarief turut menyoroti sejumlah dugaan kecurangan yang terjadi dalam pelaksanaan SPMB di beberapa PTN. Ia menyebut sedikitnya terdapat tiga kasus yang mencuat ke publik.

Kasus tersebut antara lain penggunaan alat bantu dengar oleh peserta seleksi di Universitas Diponegoro (Undip), temuan 79 calon mahasiswa anomali yang berbeda wajah dan identitas di Universitas Airlangga (Unair), serta kasus perjokian yang ditemukan di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur.

Menurut Habib, berbagai temuan tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah dan penyelenggara seleksi agar sistem penerimaan mahasiswa baru berlangsung transparan, adil, dan berintegritas. 

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.