SKETSA | Rubel
Negara-negara lain, pasti akan berlomba-lomba menjual cadangan Euro dan dolarnya untuk mendapatkan Rubel. Artinya, nasib dolar dan Euro diambang keruntuhan. Dominasi dolar yang berlangsung selama puluhan tahun akan mengalami kejatuhan mulai bulan April ini. Runtuhnya dolar berarti bangkrutnya Amerika Serikat. Jadi, yang berbahaya bukan bom nuklir melainkan “Bom Rubel’, bukan perang nuklir melainkan perang mata uang. Dapat dibayangkan para bankir di seluruh dunia sedang saling berteleponria guna membahas masalah di atas. Para bankir seluruh negara pasti menghubungi kepala bank sentralnya. Dan kepala bank sentral menghubungi kepala negara. Akhirnya akan seperti koor dalam paduan suara, serentak mereka bilang: “Perang dunia ketiga sudah dimulai !”, demikian menurut Kanzul.
Sementara itu menurut The Economist - di Rusia, gereja dan militer berjalan beriringan. Patriark Kirill, kepala Gereja Ortodoks Rusia, secara implisit mendukung invasi Vladimir Putin ke Ukraina. Ia menyemburkan propaganda Kremlin, mengklaim bahwa Rusia bukanlah agresor dan bahwa genosida sedang dilakukan oleh Ukraina terhadap penutur bahasa Rusia di Donbas. Dukungan Gereja Ortodoks terhadap perang ini tidak kecil. Selama menjabat, para imam Rusia telah memberkati bom yang ditujukan ke Suriah dan Krimea. Uskup Stefan dari Klin, contohnya, yang memimpin Katedral Angkatan Bersenjata, sekarang memimpin departemen gereja agar bekerja sama dengan tentara. Sebelum menerima gelar Patriark, Kirill adalah seorang perwira di pasukan pertahanan misil Rusia. Jadi bagi Rusia, perangnya Putin ini adalah perang Negara dan juga perang Agama. Atau setidak-tidaknya Putin membawa-bawa agama untuk berperang. Biasanya kalau Agama sudah ikut campur, Perang Dunia akan datang lebih cepat.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!