SKETSA | Rubel
Presiden Rusia Vladimir Putin memutuskan bahwa batas akhir pembaharuan kontrak minyak dan gas antara Rusia dan Uni Eropa adalah tanggal 31 Maret 2022 di mana pembayaran tidak dilakukan dengan mata uang Euro dan dolar melainkan Rubel Rusia. Sementara itu, Bank Sentral Rusia menyatakan bahwa mata uang Rubel mulai terikat dengan emas. Apa maksud dari semua itu? Semenjak intervensi militer Rusia ke Ukraina, sanksi ekonomi, politik dan budaya dijatuhkan kepada Rusia oleh Amerika Serikat, NATO dan Uni Eropa. Meskipun begitu, beberapa anggota NATO seperti Austria dan Turki tidak ikut menjatuhkan sanksi. Sebagai balasannya, pihak Rusia mengeluarkan daftar nama-nama negara yang dianggap “tidak bersahabat” atau bermusuhan dengan Rusia, dan bagi negara-negara tersebut maka segala urusan impor barang dari Rusia harus dibayar dengan menggunakan mata uang Rusia, yakni Rubel.
Uni Eropa dan Inggris masuk dalam daftar negara-negara yang "tidak bersahabat". Celakanya, karena kebutuhan minyak dan gas negara-negara tersebut berasal dari Rusia, maka roda kehidupan ekonomi dan sosialnya sangat tergantung pada Putin. Jika mereka tidak membayar impor tersebut dengan Rubel, maka terhitung sejak 1 April, minyak dan gas Rusia tidak akan mengalir lagi ke Uni Eropa dan Inggris. Konsekuensinya adalah benua Eropa akan mengalami krisis minyak dan gas. Dan kita semua tahu bahwasanya peradaban manusia di zaman sekarang berdiri di atas pondasi produksi minyak dan gas. Krisis ini akan melahirkan konflik, demikian kata Kanzul Ummal dalam salah satu artikelnya. Ia melanjutkan, penduduk Uni Eropa akan menghadapi: pertama, kenaikan harga barang (hari ini rata-rata sudah naik 20 persen); kedua, mereka akan mati menggigil kedinginan di musim dingin karena kekurangan pemanas; ketiga, pengangguran karena akan banyak pabrik-pabrik yang tutup. Untungnya sekarang sudah masuk bulan April, sebentar lagi matahari akan mencorong di bumi Eropa.
Usai perbincangannya dengan Vladimir Putin melalui telepon, Presiden Perancis Emanuel Macron menyatakan bahwa tidak mungkin membayar minyak dan gas Rusia dengan Rubel. Ini berarti, Perancis akan berhadapan dengan masalah. Macron dan pemimpin Uni Eropa lainnya, termasuk Amerika Serikat sedang kelimpungan mencari alternatif pemasok minyak selain Rusia. Hingga sejauh ini, Amerika Serikat dan sekutunya telah gagal melobi negara-negara penghasil minyak seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Venezuela. Bahkan pihak Uni Emirat Arab sendiri menyatakan bahwa tidak ada satupun negara penghasil minyak yang produksinya bisa menggantikan Rusia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!