SKETSA | Rubel
Bagaimana bila Indonesia kemudian melakukan reaksi balasan, misalnya mengusir orang-orang Belanda yang tinggal di Indonesia? Seperti zaman dulu Soekarno mengusir orang Inggis dan Amerika – “Inggris kita linggis, Amerika kita setrika”, begitu katanya. Amerika yang sensitif (karena Belanda diusir) langsung menggerakkan pangkalannya di Singapura untuk mengebomi Indonesia. Rakyat Indonesia kemudian marah dan mulai berperang dengan Singapura. Dan Australia yang diam-diam memperhatikan Indonesia, kemudian ikut mengeroyok dari Selatan. Kalau sudah begitu, pasti armada laut China yang wara-wiri di Laut Tiongkok Selatan akan menyerang Singapura karena dianggap antek Amerika, sekaligus China beradu dengan kapal perang Australia. Kacau ya, perang di Eropa Timur jadi merambat ke Asia Tenggara. Semoga khayalan saya itu tidak terjadi.
Tetapi menarik apa yang ditulis Nicole Goodkind di CNN Business, sebuah artikel yang diberi judul “Is the US dollar in Danger?” Katanya, Amerika mungkin memiliki kekuatan militer terbesar di dunia, tetapi senjata terampuhnya adalah dolar. Setelah dolar mendominasi hampir 80 tahun, sekarang status mata uangnya pada cadangan global mulai terganggu. Kita mengetahui, sekitar 60% dari $12,8 triliun cadangan mata uang global saat ini disimpan dalam dolar, hal itu memberikan Amerika hak istimewa yang sangat tinggi atas negara lain. Karena utang pemerintah Amerika yang didukung oleh dolar sangat menarik, dengan suku bunga lebih rendah. Amerika dapat meminjam dari negara lain dalam mata uangnya sendiri — jadi jika dolar kehilangan nilainya, utang juga demikian. Jika Amerika sedang berbisnis, ia dapat melakukan transaksi internasional dalam dolar tanpa harus membayar biaya konversi.
Dalam keadaan ekstrim Amerika dapat memotong akses dolar ke Bank Sentral di seluruh dunia, mengisolasi dan menguras ekonomi mereka. Raghuram Rajan, mantan gubernur Reserve Bank of India menyebut kekuatan ini sebagai “senjata ekonomi pemusnah massal”. Memang Amerika kemudian meledakkan senjata ini di Rusia pada Februari lalu setelah negara itu menginvasi Ukraina, membekukan cadangan devisa Rusia senilai $630 miliar, sehingga pembekuan ini sangat merusak nilai Rubel. Kehancuran Rubel memberi Amerika kemampuan untuk menghukum Rusia tanpa melibatkan pasukan dalam perang.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!