SKETSA | Narasi
Mengapa emosi jadi lebih menentukan ketimbang logika? Hal itu ada hubungannya dengan rasa aman. Seseorang yang berbeda, secara instinktif membuat rasa takut. Ada judgement yang muncul dari alam bawah sadar kita bahwa orang itu berbahaya. Ada orang yang mengetuk pintu pagar, kalau orang tersebut terlihat berangasan, maka secara tidak sadar kita sudah mengasumsikan orang tersebut adalah orang jahat, atau setidaknya akan bermasalah. Demikian yang terjadi dengan polisi kulit putih di Amerika, jika ada peristiwa kriminal di suatu tempat, maka polisi kulit putih buru-buru mencurigai orang kulit hitam yang berada di TKP. Dapat dibayangkan jika orang kulit hitam itu tiba-tiba menyingkir atau lari, maka asumsi kecurigaan tersebut seperti mendapat konfirmasi. Sehingga polisi kulit putih kemudian mengejar dengan prasangka si kulit hitam telah berbuat kriminal.
Prasangka seperti itu sekarang meluas ke penduduk berkulit kuning di Amerika. Setiap orang berkulit kuning berarti orang China. Orang China, dikatakan oleh Donald Trump “telah merebut lahan ekonomi kita” sehingga harus diperangi. Dengan itu, orang kulit putih dan hitam ‘bersatu’ menganiaya atau melecehkan orang kulit kuning yang mereka temui di jalanan. Logika tidak jalan, yang muncul adalah perasaan benci. Dengan perasaan benci maka yang berlaku adalah kategorisasi atau gebyah-uyah. Orang Amerika tidak lagi dapat membedakan antara negeri China yang letaknya ribuan kilometer dari benua Amerika, dengan warga negara Amerika keturunan Cina yang lahir dan besar di USA. Demikian pula Orang Amerika tidak lagi dapat membedakan antara orang Korea, Jepang, atau Thailand, yang semuanya berkulit kuning dan bermata sipit, dengan orang China. Itulah bahayanya kategorisasi.
Hal yang sama terjadi terhadap Jokowi. Orang yang membenci Jokowi sudah tidak melihat lagi fakta-fakta pertumbuhan ekonomi, kemajuan pembangunan infrastruktur, kenaikan devisa, angka GINI, pendapatan per kapita, angka inflasi rendah, yang terus menerus membaik dalam 8 tahun terakhir ini. Pokoknya apa yang dilakukan Jokowi adalah salah. Titik. Fakta sudah tidak penting lagi, karena sudah tidak suka kepada Jokowi. Karenanya, kalau ada narasi yang membuat Jokowi terlihat buruk, tidak perlu lagi proses check and rechek fakta, langsung saja dipercaya. Karena narasi itu telah mengkonfirmasi perasaan benci yang tertanam padanya sejak Jokowi berkuasa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!