SKETSA | Narasi
Oleh Syakieb Sungkar
DI ABAD 21 ini, tidak ada kebenaran. Karena kebenaran dapat dibuat, dengan apa yang disebut sebagai narasi. Narasi adalah bentuk wacana yang berusaha mengisahkan suatu peristiwa atau kejadian seolah-olah pembaca tersebut melihat juga mengalami sendiri peristiwa atau kejadian itu. Narasi mengisahkan suatu kehidupan yang dinamis dalam suatu rangkaian waktu. Kebenaran suatu kejadian sangat tergantung dari narasi yang dibuat oleh penonton atau pemirsa, yang terhubung oleh tafsir masing-masing. Jadi, kebenaran itu relatif, tidak ada yang mutlak. Masing-masing orang mempunyai kebenarannya sendiri-sendiri. Misalnya adalah gambar hasil editan Jokowi baru selesai acara photoshoot pada pertemuan puncak para pemimpin ASEAN selama dua hari di Washington DC 13-14 Mei yang baru lalu. Foto yang membuat viral itu seolah-olah Jokowi dicuekin oleh Joe Biden dan para pemimpin ASEAN.
Melihat gambar ini yang sengaja disebarkan melalui media sosial, telah membuat orang-orang yang tidak suka kepada Jokowi bersorak-sorai kegirangan. Kemudian gambar itu ditambahkan dengan narasi misalnya, lihat pemimpinmu bodoh sampai para Presiden negara lain tidak mau menyapanya. Atau, itu karena Jokowi tidak dapat berbahasa Inggris. Ditambahi dengan cemooh yang lain, kita memang telah salah pilih Presiden. Dan seterusnya. Tetapi, gambar itu sebenarnya adalah sebuah potongan dari video ketika acara photoshoot menjelang bubar. Sebelum bubar justru Biden basa-basi dulu dengan Jokowi, seperti gambar di bawah ini:
Hal yang serupa terjadi ketika Buni Yani memotong video Ahok menjadi 30 detik pada 6 Oktober 2016. Adapun, video asli pidato Ahok berdurasi 1 jam 48 menit 33 detik. Saat itu, Buni juga menghilangkan kata ‘pakai’ dalam transkripnya. Potongan pidato itu disebar di media sosial oleh Buni dengan mengedit sehingga memancing massa turun ke jalan untuk memenjarakan Ahok sebagai penista agama. Itulah kekuatan narasi. Ia dapat menafsir ulang kebenaran dengan cara mengedit (mengurangi, menambahkan dan membelokkan) sehingga terjadi tafsir baru atau pembacaan yang berbeda atas suatu peristiwa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!