SKETSA | Benturan Peradaban (III)
Jauh sebelum peristiwa 9/11, Ronald Reagan telah membangun sebuah struktur komando militer baru yang bertanggung jawab atas kawasan Timur Tengah (CENTCOM) untuk menangani stabilitas dan keamanan mulai wilayah Barat hingga Mesir, dan Selatan hingga Yaman. Di Timur dari Pakistan dan ke Utara sejauh Kazakhstan. Kehadiran seperti itu meningkatkan keluhan lokal dan ideologis. Osama Bin Laden secara khusus mengecam kehadiran pasukan militer Amerika Serikat dekat kota suci Mekah dan Madinah pada tahun 1990, kemudian mengeluarkan “Deklarasi Jihad” melawan Amerika Serikat pada tahun 1996. Bin Laden melakukan banyak serangan terhadap Amerika Serikat selama tahun 1990-an, Puncaknya adalah peristiwa 9/11 yang memaksa Amerika mengerahkan sumber daya yang signifikan untuk mengejar al-Qaeda.
Begitu terjadi bencana 9/11, pidato Presiden George W. Bush yang berkumandang setelah serangan nampaknya sudah disiapkan dengan matang, “Kebebasan telah diserang pagi ini dan akan dipertahankan. Amerika Serikat akan menghukum mereka yang bertanggung jawab.” Jenis kebebasan yang dimaksud Bush tidak jelas, karena kebebasan yang dimaksud Bush adalah memastikan perdagangan minyak tidak terputus di Teluk Persia, yang menjadi pembenaran tindakan Amerika pasca-9/11. Sebagaimana sudah disinggung di atas, pada tahun 1943, FDR menyatakan Arab Saudi sangat penting untuk pertahanan Amerika Serikat. FDR mengakui kebutuhan akan minyak dan keamanan di kawasan ini (termasuk pembentukan negara Yahudi) ketika dia bertemu raja Saudi di tahun 1945. Selanjutnya, pemerintahan Lyndon B. Johnson memperkuat hubungan dengan Israel selama Perang Arab-Israel dan sesudahnya. Aliansi militer Amerika-Israel ini sekarang menjadi bahan propaganda ekstremis Islam dalam menjelek-jelekkan Amerika. Dukungan Amerika yang tak henti-hentinya kepada Israel mengakibatkan suburnya perekrutan teroris di Timur Tengah.
Teroris? Sebetulnya yang teroris itu siapa sih? Kita lanjutkan besok …***
- Penulis adalah seorang pengamat seni, dan pernah menjadi executive di beberapa perusahaan telekomunikasi. Ia pernah kuliah di FMIPA – Universitas Indonesia (1981), lulus dari Elektro Telekomunikasi – Institut Teknologi Bandung (1986), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (2020). Dan pernah membuat buku “Melacak Lukisan Palsu” (2018) dan “Seni Sebagai Pembebasan” (2022). Pernah berpameran tunggal lukisan di galeri Titik Dua, Ubud (2021), berpameran bersama di galeri Salihara bersama Goenawan Mohamad (2020). Saat ini ia menjadi Editor in Chief di Jurnal Filsafat Dekonstruksi – jurnaldekonstruksi.id
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!