SKETSA | Benturan Peradaban (III)
Kepentingan Minyak Amerika
Sejak Presiden Franklin Delano Roosevelt (FDR) orang Amerika harus menerima fakta bahwa Timur Tengah terikat dengan kepentingan Amerika di bidang keamanan energi. Hubungan ekonomi ini dimulai ketika sebuah perusahaan minyak Amerika menemukan minyak bumi di Arab Saudi pada tahun 1938. Sejak itu, setiap upaya oleh kekuatan luar untuk mendapatkan kendali atas wilayah Teluk Persia akan dianggap sebagai serangan terhadap kepentingan vital Amerika Serikat, dan serangan seperti itu akan ditolak dengan cara apapun yang diperlukan, termasuk kekuatan militer. Sebagai contoh - dalam konteks keamanan energi, Presiden Dwight Eisenhower menggunakan CIA (dengan bantuan Inggris) untuk menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mosaddeq dari Iran yang terpilih secara demokratis. Mosaddeq dijatuhkan karena usahanya untuk menasionalisasi Perusahaan Minyak Inggris, AngloIranian. Demikian pula guncangan minyak tahun 1970-an menyebabkan gangguan pasar minyak yang berasal dari Teluk Persia. Oleh karena itu, pemerintahan Jimmy Carter secara resmi mengkodifikasikan komitmen kawasan Timur Tengah untuk saat itu dan masa depan melalui Pidato kenegaraannya di tahun 1980.
Leslie Gelb dan Richard Betts pada tahun 1979 membuat sebuah buku yang berjudul The Irony of Vietnam: The System Worked. Menurut mereka, kebijakan Amerika di Timur Tengah mirip dengan yang terjadi di Vietnam, yaitu Amerika menciptakan kebijakan dengan sarana dan tujuan strategis yang kabur. Akibatnya, Amerika - sama halnya dengan yang terjadi di Vietnam - terjerat dalam perang berlarut-larut tanpa penyelesaian. Sehingga kebijakannya gagal menciptakan hasil politik yang diinginkan. Kebijakan “keterlibatan minimal” baik di Vietnam maupun di Timur Tengah, terbukti sulit untuk menghentikan kelembaman perang melawan Komunisme di Vietnam atau Terorisme di Timur Tengah.
Di Timur Tengah, Amerika Serikat berkomitmen untuk memerangi Terorisme dan menyebarkan nilai-nilai demokrasi, sambil mencoba mempertahankan stabilitas yang lebih besar di Timur Tengah. Namun, pengejaran teroris justru merusak stabilitas kawasan, membiakkan lebih banyak terorisme dan sentimen anti-Amerika. Misalnya, serangan udara Amerika di Mosul membunuh 200 warga sipil, sehingga tidak dapat menarik dukungan warga di wilayah itu. Amerika mencari sekutu di Timur Tengah. Namun, pemerintahan sekutu ini selalu mengandalkan patronase untuk memerintah, sehingga melemahkan legitimasi domestik dan menambah ketidakstabilan jangka panjang di kawasan itu. Amerika juga mengabaikan keluhan pan-Arab terhadap dukungannya kepada Israel dan penempatan Pasukan Amerika di tanah suci Islam. Keputusan memindahkan Kedutaan Besar ke Yerusalem telah memancing sentimen masyarakat Timur Tengah untuk menuding Amerika Serikat berperilaku sombong.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!