SKETSA | Benturan Peradaban (III)

ED
Kamis, 3 Maret 2022 | 07:15 WIB
Bagikan
SKETSA | Benturan Peradaban (III)

Amerika Serikat kemudian tersandung di Timur Tengah tanpa strategi yang komprehensif. Menindaklanjuti serangan teroris 9/11, Amerika memperluas perang di Timur Tengah melalui keragu-raguan strategis: melakukan langkah yang cukup untuk menghindari kekalahan, tetapi tidak cukup berkomitmen untuk mencapai kemenangan. Selain itu, gagasan kemenangan sulit ditentukan di Afghanistan dan Irak, karena aspirasi samar untuk berkembangnya demokrasi dan sedikit upaya mereka untuk bisa mandiri. Sama halnya dengan Vietnam, uang yang dikeluarkan untuk Timur Tengah setiap tahun semakin besar, tanpa adanya kejelasan siapa yang diperanginya. Dapat dikatakan perang Timur Tengah adalah perang yang tanpa tujuan. Hal ini sangat bertentangan dengan pandangan Clausewitzian tentang perang di mana cara yang digunakan harus mempunyai tujuan tertentu.

Ada tiga aspek keterlibatan Amerika di Timur Tengah. Pertama, kepemimpinan Amerika yang memutuskan Timur Tengah itu penting karena gangguan energi memiliki konsekuensi domestik. Setiap pemerintahan telah mewarisi bagasi diplomatik yang terus terakumulasi sejak FDR, yang dampaknya merusak tujuan jangka panjang Amerika. Kedua, fatamorgana kemenangan militer yang cepat di Irak dan Afghanistan merusak ukuran kesuksesan yang sebenarnya: politik stabilitas. Kepemimpinan Amerika hanya cukup untuk menang secara militer, sambil berharap diikuti kesuksesan politik. Sementara pertarungan masih berlangsung di Irak, Afghanistan, dan Libya menegaskan kenyataan pahit bahwa Amerika Serikat hebat dalam menang secara taktis, tapi buruk dalam menang secara strategis. Ketidakmampuan Amerika mempertahankan Yaman yang pro-Amerika adalah indikasi dari struktur dan kekuatan sosial menghalangi Amerika Serikat mendapatkan jalan di Timur Tengah. Ketiga, orang Amerika tahu bahwa strategi yang mereka jalankan tidak akan menghasilkan kemenangan, sehinga elit keamanan membuat kebijakan jalan tengah, yang mengakibatkan ketergantungan yang berlebihan pada teknologi dan terbatasnya lahan untuk berperang dengan risiko rendah.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.