Saat Sungai Keruh, Hutan Adat Penyandingan Terancam
Melalui usaha berbasis hasil agroforestri, manfaat menjaga hutan dapat dirasakan lebih langsung oleh keluarga. Perempuan terlibat dalam produksi, pengemasan, dan pemasaran, sekaligus memperoleh ruang yang lebih besar dalam pengelolaan sumber daya alam desa.
“Bu Ani menunjukkan bahwa perempuan desa bukan hanya pengamat pasif, tetapi aktor perubahan. Harapannya, semakin banyak ibu-ibu di daerah lain yang terinspirasi sehingga desa dapat semakin mandiri melalui KUPS,” kata Yunita.
Bagi para perempuan Desa Penyandingan, pisang akhirnya bukan sekadar komoditas. Tanaman itu menjadi penghubung antara tambahan penghasilan, penguatan posisi perempuan, dan upaya mempertahankan Hutan Adat Ghimbe Pramunan.
“Saya ingin semakin banyak perempuan desa percaya diri, punya penghasilan, dan menjadi penjaga aktif hutan yang tetap utuh. Kalau hutan rusak, kami kehilangan segalanya,” tutup Ani.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!